Banner Website
Ragam

Dari Ingatan ke Aksi, Festival Bukit Batu 2026 Menegaskan Kebangkitan Sejarah dan Tradisi Lokal

101
×

Dari Ingatan ke Aksi, Festival Bukit Batu 2026 Menegaskan Kebangkitan Sejarah dan Tradisi Lokal

Sebarkan artikel ini
Ribuan pengunjung memadati kawasan Bukit Batu saat Festival Budaya Bukit Batu 2026, menikmati pameran sejarah, pertunjukan seni, dan rangkaian kegiatan pelestarian tradisi. Senin (13/4/2026)./R45

Rakyat45.com, Bukit Batu – Semilir angin pesisir membawa gema masa lalu yang kembali dihidupkan, langkah-langkah pengunjung yang tak henti berdatangan menjadi saksi bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Festival Budaya Bukit Batu 2026 tampil sebagai panggung kebangkitan sebuah ruang tempat tradisi dirawat, dikenang, dan diwariskan dengan semangat baru.

Selama dua hari, 10–11 April 2026, kawasan Bukit Batu Laut menjelma menjadi pusat pertemuan lintas daerah. Ribuan pengunjung dari Siak, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, hingga Pekanbaru memadati lokasi festival, menciptakan denyut kebudayaan yang hidup dan inklusif.

Antusiasme itu tampak nyata, terutama pada pameran foto serta benda bersejarah yang menarik hampir seribu pengunjung menandakan tingginya minat terhadap jejak sejarah lokal.

Mengusung tema “Menjelajah Sejarah, Merawat Tradisi,” festival ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya visual, tetapi juga reflektif. Naskah kuno Bukit Batu dan koleksi autentik dari rumah Datuk Laksamana serta Orang Kaya Raja Negara ditampilkan sebagai pintu masuk memahami akar sejarah kawasan.

Pendalaman makna kemudian diperluas melalui diskusi terpumpun (FGD) yang mengulas peran tokoh-tokoh tersebut, sekaligus mengangkat nilai ekologis Ikan Terubuk sebagai simbol kearifan lokal.

Rangkaian kegiatan berlanjut ke ruang yang lebih nyata; susur sungai dan ziarah budaya mengajak peserta menyusuri jejak perjuangan para tokoh, termasuk kunjungan ke rumah bersejarah Datuk Laksamana.

Malam hari menghadirkan dimensi berbeda panggung seni yang mempertemukan ekspresi tradisi dan kreativitas kontemporer melalui penampilan Jefri Al Malay, Wak Zul Siak, serta kelompok seni Batin Sembilan, Tengkulai Pucuk, Teghas Tematu, dan Senduduk Putih.

Apresiasi mengemuka dari Pemerintah Provinsi Riau. Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, dan Pelestarian Cagar Budaya, Zul Ikram, menilai festival ini sebagai cerminan kekuatan inisiatif generasi muda dalam merawat identitas budaya.

“Saya sangat kagum melihat bagaimana semangat pemuda mampu menghidupkan kembali kebudayaan. Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh pihak yang terlibat,.semoga semakin banyak cagar budaya yang terjaga dan tradisi kembali menemukan ruangnya,” ujarnya.

Ketua pelaksana, Juwandi, menegaskan bahwa keberhasilan ini berakar dari proses panjang sejak pengajuan program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan pada 2025.

Ia menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan, sekaligus mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak mulai dari Dinas Kebudayaan Riau, tim peneliti Bayu Amde Winata dan Syahyarwan Zam, Datuk Seri Syaukani Al Karim selaku Ketua LAMR Bengkalis, hingga keluarga Datuk Laksamana dan Orang Kaya Raja Negara, serta masyarakat Bukit Batu.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama; sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga warisan,” tutur Juwandi, Senin (13/4/2026).

Dukungan serupa disampaikan Kepala Desa Bukit Batu, Mahendra, yang berharap festival ini dapat berlanjut sebagai agenda rutin tahunan. Kontribusi pihak swasta, seperti PT Riau Petroleum Rokan, BRK Syariah Sei Pakning, serta sejumlah perusahaan lainnya, turut memperkuat penyelenggaraan kegiatan.

Festival Budaya Bukit Batu 2026 pada akhirnya tidak hanya meninggalkan keramaian, tetapi juga makna yang lebih dalam, tradisi yang dirawat dengan kesadaran kolektif akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.

Dalam harmoni antara sejarah dan masa kini, Bukit Batu menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan, melainkan denyut yang terus berlanjut.**