Banner Website
Ekbis

Dari Bengkalis ke Pekanbaru Herry Menjaga Warisan Mie Sagu Melayu

20
×

Dari Bengkalis ke Pekanbaru Herry Menjaga Warisan Mie Sagu Melayu

Sebarkan artikel ini
Dari Bengkalis ke Pekanbaru Herry Menjaga Warisan Mie Sagu Melayu
Bersama Qris BRI perjuangan seorang Herry perantau menjaga identitas kuliner kampung halaman sambil beradaptasi dengan dunia usaha modern. (R45/MD)

RAKYAT45.COM – Aroma bawang goreng dan rempah-rempah lebih dulu menyambut siapa saja yang datang. Wangi itu keluar dari sebuah rumah makan sederhana bernama Roemah Mie Sagu Bengkalis Mak Cio. Tidak mencolok, namun selalu menghadirkan rasa akrab bagi para pelanggan yang singgah.

Di balik meja kecil dekat dapur, seorang laki-laki tinggi dan berbadan ramping tampak sibuk menyiapkan kemasan cabai serbaguna. Tangannya bergerak cepat, tetapi senyumnya tak pernah hilang saat menyapa pelanggan yang datang silih berganti. Dialah Herry Purwanto, sosok yang perlahan menjaga cita rasa kampung halaman tetap hidup di tengah hiruk pikuk kota.

Suasana di rumah makan itu terasa hangat. Tidak ada kesan kaku seperti tempat makan pada umumnya. Obrolan ringan mengalir bersama suara penggorengan dan aroma teri yang menajadi bumbu mi sagu khas Makcio. Pelanggan datang bukan sekadar mencari makanan, tetapi juga rasa pulang yang sulit dijelaskan.

Bagi masyarakat pesisir Riau, terutama Bengkalis dan Kepulauan Meranti, mie sagu bukan hanya hidangan pengganjal lapar. Makanan ini adalah bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Terbuat dari tepung sagu, mie ini memiliki tekstur kenyal dengan bentuk lebih besar dan sedikit transparan dibanding mie biasa. Rasanya sederhana, namun gurihnya menyimpan kekayaan rasa Melayu pesisir.

Herry tumbuh bersama aroma mie sagu sejak di Bengkalis. Kenangan tentang dapur rumah bersama istrinya, Nur Fitria, masih lekat dalam ingatannya. Aroma teri goreng, bawang yang ditumis, hingga cabai yang menguar dari dapur menjadi bagian dari masa yang tak pernah benar-benar pergi.

Namun perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Setelah menjalani kehidupan yang cukup stabil, pada 2014 Herry memutuskan pindah ke Pekanbaru. Kota baru itu menghadirkan tantangan sekaligus kerinduan yang diam-diam tumbuh setiap hari.

Di tangan Herry, bukan hanya mie sagu yang dipertahankan. Ia mulai meracik berbagai produk rumahan seperti bumbu serbaguna, cabai serbaguna, hingga bawang goreng kemasan. Produk terbarunya, Makcio Bawang Goreng atau Makcio MBG, kini mulai digemari sejumlah tempat makan siap saji.

Kesibukan Herry dimulai sejak pagi. Pesanan online harus lebih dulu disiapkan sebelum pelanggan datang langsung ke toko. Dalam sehari, sekitar 200 bungkus produk dikemas menggunakan mesin produksi yang kini membantu mempercepat pekerjaan mereka.

Meski usaha terus berkembang, Herry tetap mempertahankan sentuhan rumahan di setiap produknya. Baginya, makanan bukan sekadar dagangan, melainkan cara menjaga cerita dan ingatan tentang kampung halaman.

“Ke depan Makcio ingin lebih produktif mengembangkan sambal siap saji supaya lebih praktis untuk pembeli online,” ujar Herry di sela kesibukannya melayani pelanggan.

Di tengah aktivitas yang padat, Herry juga mulai beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia memanfaatkan pembayaran digital QRIS BRI untuk memudahkan transaksi di tokonya.

Dulu, pagi hari sering dimulai dengan kerepotan mencari uang receh untuk kembalian pelanggan. Kini, semuanya terasa lebih praktis.

“Sekarang dengan adanya digitalisasi QRIS BRI, tidak perlu lagi mengembalikan uang receh,” kata Herry kepada Rakyat45.com, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, metode pembayaran digital menjadi hal yang sangat penting, terutama saat mengikuti pameran di pusat perbelanjaan maupun luar daerah. Kemudahan transaksi membuat pelanggan lebih nyaman dan proses jual beli berjalan lebih cepat.

Di balik kesibukan melayani pembeli langsung dan pesanan online, Herry seolah sedang merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar usaha kuliner. Ia menjaga rasa, kenangan, dan identitas kampung halamannya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dan setiap kali aroma bawang goreng kembali menyeruak dari dapur Mak Cio, ada cerita tentang rindu yang terus dimasak perlahan, agar tak pernah hilang.***