Banner Website
Ekbis

Purbaya Pastikan Defisit APBN Dijaga di Bawah 3%

44
×

Purbaya Pastikan Defisit APBN Dijaga di Bawah 3%

Sebarkan artikel ini
Purbaya Pastikan Defisit APBN Dijaga di Bawah 3%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menjalankan sejumlah pertemuan dengan investor di New York pada Senin (13/4/2026). (Sumber Foto : Humas Kementerian Keuangan)

Rakyat45.com, Jakarta – Defisit APBN Indonesia kembali menjadi sorotan dalam pertemuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan para investor di New York, Amerika Serikat. Pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sesuai ketentuan yang berlaku.

Penegasan ini disampaikan Purbaya di hadapan investor pada Senin (13/4/2026), di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Ia menyebut disiplin fiskal menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas keuangan negara.

“Sebagai investor, pertanyaan yang wajar adalah bagaimana kita membiayai ini? Kami tetap disiplin, bahwa defisit dijaga di bawah 3% dan dikelola dengan baik,” ucap Purbaya dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 31 Maret 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari PDB. Sementara itu, pendapatan negara telah mencapai Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.

Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat mencapai Rp815 triliun atau 31,4 persen dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun.

Pemerintah menegaskan bahwa pengendalian defisit dilakukan melalui berbagai strategi, mulai dari peningkatan penerimaan negara, optimalisasi aset, hingga efisiensi belanja. Selain itu, kebijakan pembiayaan negara juga diarahkan secara terukur dan fleksibel dengan melibatkan sektor swasta.

“Kami mendorong sinergi pembiayaan dan inovasi, tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta,” tutur Purbaya.

Menurutnya, keterlibatan sektor swasta menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ia mencontohkan periode sebelumnya ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai sekitar 6 persen dengan dukungan kuat dari sektor swasta.

“Oleh karena itu, kali ini kita akan memastikan bahwa kedua mesin pertumbuhan, yaitu sektor swasta dan pemerintah, dapat bekerja dengan baik. Secara teori, hal ini akan menghasilkan pertumbuhan setidaknya sekitar 6%,” terang Purbaya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan fiskal agar target pertumbuhan ekonomi dalam APBN dapat tercapai. Jika ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,5 persen pada triwulan I dan II-2026, maka optimisme investor diperkirakan akan semakin meningkat.

“Jadi kita fokus memastikan bahwa kebijakan kita benar, implementasinya kita sesuai dengan design yang kita buat,” pungkas Purbaya.***