Banner Website
Ekbis

PLN EPI Kembangkan Bio-CNG dari Limbah Sawit untuk Percepat Transisi Energi

57
×

PLN EPI Kembangkan Bio-CNG dari Limbah Sawit untuk Percepat Transisi Energi

Sebarkan artikel ini
PLN EPI Garap Bio-CNG dari Limbah Sawit
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbahan baku limbah kelapa sawit. (R45/Ist)

Rakyat45.com, Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat pengembangan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbahan baku limbah kelapa sawit sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi hijau dan percepatan transisi energi nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CNG merupakan langkah konkret untuk menghasilkan energi rendah karbon sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

“Melalui kerja sama dengan pemilik konsesi dan pabrik kelapa sawit, Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat diolah menjadi biometana yang kemudian dimurnikan menjadi Bio-CNG untuk mendukung kebutuhan energi pembangkit listrik,” ujar Hokkop Situngkir dalam keterangannya, dikutip Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, pengembangan Bio-CNG juga menjadi upaya meningkatkan nilai tambah limbah industri sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

PLN EPI melihat potensi besar pengembangan energi tersebut di Sumatera Utara yang merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 327 entitas perkebunan sawit dan 237 pabrik pengolahan yang berpotensi menjadi pemasok bahan baku biometana.

Sebagai langkah awal, PLN EPI telah menjalin kerja sama dengan PT KIS Biofuels Indonesia untuk mengolah limbah cair sawit menjadi Bio-CNG. Energi tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung operasional PLTGU Belawan yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 megawatt (MW).

PLN EPI juga terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pabrik kelapa sawit guna memperluas pemanfaatan limbah menjadi energi bersih yang bernilai ekonomis.

Hokkop menegaskan, pengembangan biometana tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

Menurutnya, gas metana yang berasal dari limbah cair sawit memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Karena itu, pemanfaatan metana sebagai sumber energi dinilai menjadi solusi efektif untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.***