Banner Website
Ekbis

Dari Mesin Cuci ke Harapan Baru, Perjuangan Linda Menopang Keluarga Lewat KUR BRI

27
×

Dari Mesin Cuci ke Harapan Baru, Perjuangan Linda Menopang Keluarga Lewat KUR BRI

Sebarkan artikel ini
Kisah Linda di Pekanbaru Kembangkan Usaha Laundry Berkat KUR BRI
Logo Usaha Rubiati Loundry. (R45/Marianus)

Perjuangan seorang ibu tiga anak mengembangkan usaha laundry dan membantu ekonomi keluarga melalui akses pembiayaan KUR BRI.

RAKYAT45.COM – Di sebuah sudut Jalan Sri Indra, Kelurahan Rumbai Bukit, Pekanbaru, suara mesin cuci yang berputar silih berganti menjadi penanda aktivitas yang tak pernah benar-benar berhenti. Tumpukan pakaian pelanggan datang dan pergi setiap hari. Di balik rutinitas itu, ada cerita tentang perjuangan seorang ibu yang berusaha menjaga dapur tetap mengepul sekaligus memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjaga.

Perempuan itu adalah Linda Nuryaningrum Rubianti. Wajahnya tampak tenang saat melayani pelanggan yang datang ke usaha laundry miliknya. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan, tersimpan perjalanan panjang dalam membangun usaha yang kini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarganya.

Tiga tahun lalu, Linda berada pada persimpangan penting. Keinginan untuk mengembangkan usaha terbentur keterbatasan modal. Saat itulah ia mulai mendengar cerita dari para pelaku usaha lain yang lebih dulu merasakan manfaat Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI.

“Dapat dana KUR tahun 2023, untuk mengembangkan usaha laundry,” ujarnya.

Cerita positif dari sesama pelaku usaha membuat Linda memberanikan diri mengajukan pembiayaan. Ia tertarik karena melihat banyak pelaku usaha kecil yang bisa memperoleh modal tanpa harus menyerahkan agunan.

“Awal tertarik karena lihat usaha teman, ternyata bisa pinjam KUR tanpa agunan. Terus kami coba untuk usaha kedai harian dan laundry. Ternyata disetujui pihak BRI Unit Rumbai sebanyak Rp20 juta. Dari situ dananya dipakai untuk menambah isi kedai dan beli kebutuhan usaha lainnya. Namun sekarang fokus ke laundry saja,” tuturnya.

Dana sebesar Rp20 juta itu menjadi titik awal perubahan. Modal yang sebelumnya terbatas mulai bertambah. Berbagai kebutuhan usaha dapat dipenuhi. Perlahan, usaha yang dijalankannya berkembang dan memberi ruang lebih besar bagi Linda untuk membantu keuangan keluarga.

Bagi Linda, manfaat KUR bukan hanya soal tambahan modal. Kemudahan proses pengajuan dan bunga yang lebih ringan dibanding pinjaman komersial menjadi alasan lain yang membuatnya merasa terbantu. Skema pembayaran yang disesuaikan dengan kondisi usaha membuatnya lebih tenang dalam mengelola keuangan.

Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, usaha laundry tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat berarti. Apalagi sang suami bekerja sebagai satpam dengan penghasilan yang sudah harus dibagi untuk berbagai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak-anak mereka.

“Sangat terbantu dengan adanya KUR BRI. Apalagi suami yang bekerja sebagai satpam penghasilannya sudah terbagi-bagikan untuk kebutuhan anak sekolah. Jadi dari usaha laundry ini lah bisa bantu-bantu penghasilan keluarga kecil kami. Kalau kita memenuhi syarat pasti dipermudah. Apalagi pinjamannya tanpa agunan,” kata ibu tiga anak itu.

Kisah Linda menjadi satu dari ribuan cerita pelaku usaha mikro di Riau yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang melalui akses pembiayaan. Di balik angka-angka penyaluran kredit, terdapat harapan, kerja keras, dan mimpi-mimpi kecil yang terus diperjuangkan setiap hari.

Kisah Linda di Pekanbaru Kembangkan Usaha Laundry Berkat KUR BRI
Infografis BRI. (Dibuat menggunakn AI dengan menggunakan Data Asli)

Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 BRI Wilayah Riau telah menyalurkan KUR sebesar Rp5,26 triliun kepada pelaku UMKM.

Penyaluran terbesar mengalir ke sektor pertanian dengan nilai mencapai Rp3,72 triliun atau sekitar 70,72 persen dari total KUR yang disalurkan. Sektor perdagangan menyusul dengan nilai Rp1,02 triliun atau 19,39 persen. Kondisi ini sejalan dengan struktur ekonomi Riau yang masih didominasi sektor perkebunan, pertanian, peternakan, dan berbagai usaha agribisnis lainnya.

Efektivitas program ini juga terlihat dari meningkatnya kapasitas pelaku usaha. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 5.578 debitur berhasil naik kelas dari segmen mikro ke tingkat usaha yang lebih tinggi. Hingga Mei 2026, jumlah debitur yang berhasil graduasi kembali bertambah menjadi 1.037 orang.

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi Riau mencapai 4,89 persen secara tahunan dengan salah satu penopangnya adalah UMKM mikro yang tumbuh 8,33 persen. UMKM juga menyumbang 34,7 persen dari total kredit usaha di Provinsi Riau, sementara BRI berkontribusi sebesar 57,2 persen terhadap pembiayaan UMKM di daerah tersebut.

Meski demikian, perjalanan menuju akses pembiayaan tidak selalu mulus. Masih banyak pelaku usaha yang terkendala riwayat kredit di SLIK OJK, usia usaha yang belum mencapai enam bulan, hingga kelengkapan administrasi seperti NPWP untuk pengajuan tertentu. Namun bagi mereka yang memenuhi persyaratan, kesempatan untuk berkembang tetap terbuka lebar.

Di tempat usahanya yang sederhana di Rumbai Bukit, Linda mungkin tidak terlalu memikirkan angka triliunan rupiah atau statistik pertumbuhan ekonomi. Yang ia rasakan adalah bagaimana tambahan modal mampu mengubah langkah kecil menjadi usaha yang lebih kuat.

Setiap pakaian yang selesai dicuci dan disetrika bukan sekadar pekerjaan harian. Di sana ada harapan yang terus diputar bersama mesin laundry, ada semangat seorang ibu yang tak ingin menyerah pada keadaan, dan ada keyakinan bahwa usaha kecil pun bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.***