Perpaduan kisah perjuangan UMKM dengan realitas penyaluran KUR BRI yang selektif dan berbasis kehati hatian
RAKYAT45.COM – Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.00 WIB ketika ia melangkah menuju Pasar Pagi Arengka. Jalanan masih sunyi, udara masih dingin, namun di balik lapak sederhana itu sudah tersusun rapi roti dan kue hasil tangannya sendiri. Hingga pagi menjelang sekitar pukul 08.00 WIB, ia berdiri melayani pembeli yang datang silih berganti tanpa jeda.
Di antara ritme pasar yang mulai ramai, ia membawa harapan dari usaha kecil bernama Haga Bakery. Sebuah usaha yang lahir dari dapur sederhana, dari keberanian meninggalkan pekerjaan lama, dan dari keyakinan bahwa hidup bisa dibangun kembali dari nol.
Sebelum semua ini, Oktanius pernah bekerja di perusahaan roti. Bertahun tahun ia belajar tentang adonan, proses produksi, hingga memahami seluk beluk bisnis. Namun ada satu titik yang membuatnya memilih jalan berbeda.
Awalnya saya bekerja di perusahaan roti. Setelah keluar, saya berpikir lebih baik mencoba usaha sendiri, ujarnya mengenang.
Keputusan itu membawanya pada perjalanan yang tidak mudah. Ia memulai produksi dari rumah dengan peralatan sederhana. Tidak ada jaringan besar, tidak ada modal berlimpah. Semua bahan ia cari sendiri dari toko sekitar, menyesuaikan kemampuan usaha yang masih tumbuh perlahan.
Perlahan tapi pasti, pelanggan mulai mengenal rasa yang ia buat. Hingga tahun 2023 menjadi titik penting ketika Haga Bakery resmi dirintis sebagai usaha yang lebih serius. Nama Haga sendiri diambil dari bahasa Nias yang berarti cahaya atau sinar, sebuah simbol harapan yang ia pegang erat di tengah keterbatasan.
Di dapur kecil itu, hampir seluruh proses ia jalankan sendiri. Dari mengaduk adonan, memanggang, hingga menjual langsung di pasar. Ia tidak benar benar sendirian karena keluarga menjadi bagian penting yang ikut menopang langkahnya.
“Saya buat sendiri, masak sendiri, dan jual sendiri. Intinya saat ini saya belum memiliki karyawan, dan hanya dibantu oleh anak dan istri saya,” sebutnya kepada Rakyat45.com, Jumat (26/6/2026).
Setiap hari sekitar 10 kilogram tepung berubah menjadi 400 hingga 500 roti dan kue. Roti cokelat, roti boy, bolu, kue kering, hingga donat menjadi menu yang akrab di lidah pembeli. Semua dijual dengan harga terjangkau antara Rp3.000 hingga Rp25.000.
Di tengah pertumbuhan itu, modal menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Ia kemudian memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat melalui Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp50 juta. Dengan membawa dokumen sederhana seperti KTP, KK, dokumen keluarga istri, dan surat tanah sebagai agunan, ia menjalani proses yang tidak instan.
Dana itu menjadi penguat kapasitas produksi. Namun di balik cerita sukses banyak pelaku UMKM, ada satu hal yang jarang terlihat yaitu ketelitian proses penyaluran KUR itu sendiri.
PT Bank Rakyat Indonesia Region 2 Pekanbaru menegaskan bahwa penyaluran Kredit Usaha Rakyat tetap dilakukan secara selektif dan mengacu pada analisa kredit yang ketat meski merupakan program subsidi pemerintah.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Ramah Tamah dan Silaturahmi yang dihadiri oleh Regional Business Support Head BRI Region 2 Pekanbaru Eda Febriyanti serta Micro Business Department Head Nugraha Ramadan pada Kamis 7 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu ditegaskan bahwa pengajuan KUR tidak otomatis disetujui meskipun merupakan program pemerintah. Setiap pengajuan tetap melewati analisa kredit menyeluruh termasuk pengecekan riwayat pinjaman, status tunggakan, serta kemampuan membayar angsuran.
Usaha calon penerima KUR juga wajib sudah berjalan minimal enam bulan dan diverifikasi langsung oleh petugas lapangan. Petugas bahkan harus turun langsung ke lokasi usaha untuk memastikan kelayakan calon debitur.
BRI juga mewajibkan pemutus melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha guna memastikan kelayakan calon nasabah. Selanjutnya proses analisa dilakukan secara menyeluruh agar skema cicilan sesuai kapasitas usaha dan tetap mempertimbangkan kebutuhan hidup sehari hari, kata Micro Business Department Head Nugraha Ramadan.
Dari sisi kinerja, penyaluran KUR secara nasional pada 2025 mencapai sekitar Rp178 triliun kepada 3,8 juta debitur. Pada 2026, target penyaluran KUR di BRI mencapai Rp180 triliun dengan dominasi sektor pertanian sekitar 45 persen diikuti perdagangan, industri, perikanan, dan sektor lainnya.
Untuk wilayah kerja Bank Rakyat Indonesia Region 2 Pekanbaru yang mencakup Riau Daratan hingga Kepulauan Riau, terdapat lebih dari 200 outlet pelayanan terdiri dari 22 kantor cabang dan 170 BRI Unit. Lebih dari 800 tenaga pemasar mikro atau mantri juga dikerahkan untuk menjangkau pelaku UMKM hingga daerah terpencil.
Sepanjang 2025, penyaluran KUR di Riau tercatat mencapai Rp6,2 triliun kepada sekitar 90 ribu debitur. Di Kepulauan Riau mencapai Rp755 miliar kepada 14 ribu debitur. Sementara pada periode berjalan 2026, penyaluran di Riau sudah berada di kisaran Rp2,3 hingga Rp2,4 triliun kepada 33 ribu debitur dan di Kepulauan Riau sekitar Rp327 miliar.
Penyaluran KUR di Riau masih didominasi sektor pertanian dan perkebunan sawit, sedangkan di Kepulauan Riau lebih banyak terserap sektor perdagangan, sebutnya.
Pada kesempatan terpisah, Regional CEO BRI Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana menegaskan bahwa BRI terus mendukung penyaluran KUR di wilayah Riau dan Kepulauan Riau sebagai upaya memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Prinsip kehati hatian tetap menjadi fondasi agar kredit yang disalurkan tetap sehat dan tepat sasaran.
Di sisi lain, kisah Oktanius tetap berjalan di jalur yang sama setiap hari. Dari dapur kecil hingga lapak pasar, dari adonan sederhana hingga roti yang diburu pelanggan, semuanya menyatu dalam satu perjalanan panjang yang tidak hanya berbicara tentang usaha, tetapi juga tentang keteguhan.
Dan di tengah angka angka penyaluran KUR yang besar serta sistem yang ketat, ada wajah wajah kecil seperti dirinya yang membuktikan bahwa satu pinjaman bukan sekadar transaksi, melainkan awal dari keberanian untuk bertahan dan tumbuh.
Di Pasar Pagi Arengka, saat pagi mulai terang, aroma roti hangat itu kembali mengisi udara. Seakan mengingatkan bahwa cahaya tidak selalu datang dari hal besar. Kadang ia lahir dari dapur kecil yang tidak pernah berhenti menyala.***













