Banner Website
Ekbis

Ketika Bahasa Melayu Menjelma Menjadi Kaos, Sebuah Cerita dari Pekanbaru

×

Ketika Bahasa Melayu Menjelma Menjadi Kaos, Sebuah Cerita dari Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Kisah Cakap PKU, Kaos yang Menghidupkan Bahasa Melayu
Al Azhari Refni pemilik Cakap PKU, brand kaos khas Pekanbaru. (R45/Marianus)

Menelusuri bagaimana bahasa Melayu dan identitas budaya Pekanbaru menemukan bentuk baru melalui sebuah brand kaos lokal yang tumbuh bersama perubahan zaman.

RAKYAT45.COM – Tidak semua oleh-oleh lahir dari resep turun-temurun atau kerajinan yang diwariskan lintas generasi. Ada yang tumbuh dari percakapan sederhana di warung kopi, dari celetukan yang terlontar di sudut jalan, dari dialek yang hanya dipahami mereka yang lahir dan besar di sebuah kota.

Di Pekanbaru, percakapan-percakapan itu menjelma menjadi selembar kaos.

Kalimat seperti Awak ni Apalah, Panas Bedengkang, atau Ndak Ada Do bukan lagi sekadar ungkapan sehari-hari. Ia berubah menjadi penanda identitas, dikenakan di tubuh para pelancong yang ingin membawa pulang sedikit cerita tentang Kota Bertuah.

Di baliknya berdiri Al Azhari Refni, pria yang lebih akrab disapa Ari. Sebelum dikenal sebagai pendiri Cakap PKU, ia hanyalah seorang sales perusahaan di Pekanbaru. Pekerjaannya mempertemukannya dengan banyak orang, banyak cerita, sekaligus memperlihatkan satu kenyataan bahwa kota ini belum memiliki cendera mata yang benar-benar berbicara dengan bahasa warganya sendiri.

Perjalanannya dimulai dari usaha sablon. Dari ruang kerja sederhana itu, Ari mengamati satu demi satu merek kaos lokal yang perlahan menghilang. Ketika sebagian orang melihat surutnya pasar, ia justru melihat ruang kosong yang bisa diisi.

Ia kemudian memberi nama usahanya Cakap PKU.

“Cakap” dalam bahasa Melayu berarti berbicara. Sementara PKU merupakan singkatan dari Pekanbaru. Nama itu sederhana, tetapi mengandung harapan bahwa setiap kaos mampu menjadi medium yang memperkenalkan cara masyarakat Melayu bertutur kepada siapa pun yang mengenakannya.

Pada masa awal, desain-desain Cakap PKU lahir dari apa yang didengar Ari setiap hari. Percakapan warga, guyonan antarteman, hingga ungkapan yang akrab di telinga masyarakat menjadi sumber inspirasi. Kata-kata yang mungkin terdengar biasa bagi orang Pekanbaru justru menjadi sesuatu yang unik bagi mereka yang datang dari luar daerah.

Ari tidak menampik proses kreatif yang mengawali usahanya.

“Untuk desain, saya memakai prinsip amati, tiru, dan modifikasi (ATM). Namun kini Cakap PKU sudah memiliki konsep tersendiri dengan memadukan corak tradisional dan modern.”

Seiring waktu, identitas itu semakin matang. Tulisan-tulisan khas Melayu kini dipadukan dengan motif yang mengangkat nuansa tradisional sekaligus tetap akrab dengan selera generasi muda. Kaos-kaos itu bukan lagi sekadar suvenir, melainkan lembar kecil yang membawa narasi tentang sebuah kota.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung singkat.

Sedikit demi sedikit, Cakap PKU menemukan tempatnya di rak-rak toko oleh-oleh besar di Pekanbaru. Pembelinya pun datang dari berbagai daerah seperti Kampar, Bengkalis, Kuantan Singingi, hingga kota-kota lain di Riau.

“Alhamdulillah, sekarang Cakap PKU sudah tersedia di toko oleh-oleh besar di Pekanbaru. Pembelinya kaos kita juga tidak hanya dari Pekanbaru, tapi dari luar daerah seperti Kampar, Bengkalis, Kuansing, dan lainnya,” ujar Ari, Kamis (27/2025).

Perjalanan sebuah usaha hari ini tidak hanya ditentukan oleh kreativitas. Di tengah perubahan cara masyarakat berbelanja, teknologi perlahan menjadi bagian dari denyut kehidupan UMKM.

Ari merasakan perubahan itu.

Pada 2022, usahanya difasilitasi BRI dengan layanan QRIS. Saat mengikuti Pekan Raya Pekanbaru, Cakap PKU bahkan mencatat jumlah dan nominal transaksi tertinggi sehingga memperoleh hadiah mesin Electronic Data Capture atau EDC. Perangkat kecil itu menjadi simbol perubahan yang lebih besar, ketika transaksi tak lagi bergantung pada lembaran uang, melainkan pada sentuhan jari di layar telepon genggam.

“Karena sekarang trennya cashless atau non tunai. Pembeli dari luar daerah atau orang kantoran biasanya enggak banyak bawa uang cash. Jadi transaksi pakai QRIS lebih praktis,” katanya.

Apa yang dialami Ari mencerminkan perubahan yang berlangsung lebih luas.

Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, menjelaskan bahwa hingga akhir 2025 aplikasi BRImo telah digunakan sekitar 45,9 juta pengguna di Indonesia. Sepanjang tahun yang sama, aplikasi tersebut memproses sekitar 5,6 miliar transaksi dengan nilai lebih dari Rp7.000 triliun. Sebanyak 99,1 persen transaksi BRI kini dilakukan melalui kanal digital.

Melalui BRImo dan jaringan Agen BRILink, layanan keuangan semakin mudah dijangkau masyarakat, termasuk di wilayah yang jauh dari kantor cabang. Pelaku UMKM dapat menerima pembayaran QRIS, memantau transaksi secara langsung, hingga memperoleh akses pembiayaan yang semakin mudah. Di sisi lain, BRI juga terus memperkuat keamanan transaksi digital melalui autentikasi berlapis, enkripsi data, pemantauan transaksi secara real time, serta edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan digital.

Namun, bagi Ari, ukuran keberhasilan tidak semata dihitung dari nilai transaksi atau jumlah pengguna aplikasi.

Keberhasilan itu hadir setiap kali seseorang mengenakan kaos bertuliskan dialek Melayu sambil tersenyum karena mengingat perjalanan mereka di Pekanbaru. Pada saat itulah bahasa yang semula hanya hidup di antara percakapan warga menemukan rumah baru di dalam koper para pelancong.

Barangkali itulah makna sesungguhnya dari sebuah oleh-oleh.

Ia bukan sekadar benda yang dibawa pulang, melainkan cara sebuah kota memastikan kisahnya tetap hidup, bahkan ketika para tamunya telah melanjutkan perjalanan ke tempat lain.***

Kisah Cakap PKU, Kaos yang Menghidupkan Bahasa Melayu