Rakyat45.com, Yogyakarta – Estafet kepemimpinan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Daerah Istimewa Yogyakarta memasuki babak baru. Musyawarah Wilayah (Muswil) BKPRMI DIY 2026 menetapkan Haidar Muhammad Tilmitsani sebagai Ketua Umum DPW BKPRMI DIY periode 2026–2031.
Keputusan tersebut diambil dalam Muswil yang berlangsung di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, pada Senin (21/9/2026). Forum mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Mengokohkan Peran, Mewujudkan Pemuda Masjid yang Berdaya dan Berdakwah.”
Bukan hanya memilih ketua umum, Muswil juga menetapkan Tim Formatur. Tim tersebut bersama Haidar akan menyusun kepengurusan DPW BKPRMI DIY untuk lima tahun mendatang.
Bujang Dara Meranti 2026 Terpilih, Mahkota Jadi Mandat Promosi Daerah
9 Agustus 2026Forum permusyawaratan tertinggi BKPRMI di tingkat wilayah itu sekaligus menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sebelumnya, memperkuat konsolidasi, serta merumuskan kebijakan dan rekomendasi yang akan menjadi pijakan kepengurusan baru.
Pemilihan Masjid Jogokariyan sebagai tempat pelaksanaan Muswil turut memperkuat pesan yang hendak dibawa organisasi. Masjid tersebut dikenal sebagai salah satu rujukan dalam pengelolaan dan pemberdayaan masjid, sehingga keberadaannya diharapkan memberi inspirasi bagi BKPRMI DIY untuk memperluas peran masjid sebagai pusat dakwah, kaderisasi, pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Umum DPW DIY BKPRMI periode 2020–2025, H. Asmoyo, S.Pd.T., mengingatkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak boleh berhenti pada perubahan struktur organisasi.
“Muswil ini bukan sekadar memilih siapa yang akan menjadi ketua berikutnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memastikan estafet gerakan BKPRMI terus berjalan, ukhuwah semakin kuat, dan organisasi semakin mampu menjawab kebutuhan pemuda dan remaja masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kita ingin kepemimpinan baru membawa energi baru tanpa meninggalkan nilai, pengalaman, dan kerja baik yang sudah dibangun selama ini.”
Asmoyo berharap kepemimpinan Haidar dapat menjadi titik temu bagi seluruh potensi BKPRMI di DIY.
“Kami berharap Mas Haidar bersama kepengurusan yang nanti dibentuk dapat merangkul seluruh potensi BKPRMI. Tidak boleh ada yang merasa tidak terfasilitasi dalam memakmurkan masjid setelah Muswil. Musyawarah selesai, setelah itu semuanya bersama-sama memakmurkan masjid dan memberdayakan generasi muda.”
Ketua Organizing Committee (OC) Muswil BKPRMI DIY 2026, Aditya Ramadhona, S.T., mengatakan lokasi pelaksanaan forum sengaja dipilih untuk mempertegas kembali posisi masjid sebagai ruang tumbuh generasi muda.
“Kami sengaja menghadirkan Muswil di lingkungan Masjid Jogokariyan. Ada pesan yang ingin kami kuatkan bahwa BKPRMI harus kembali menjadikan masjid sebagai pusat gerakan pemuda. Masjid bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga tempat lahirnya kader, gagasan, kepemimpinan, kegiatan sosial, dan berbagai ikhtiar pemberdayaan masyarakat.”
Aditya menegaskan bahwa berakhirnya Muswil justru membuka tahapan kerja organisasi yang baru. Hasil permusyawaratan harus diwujudkan melalui kepengurusan yang solid dan program yang memiliki dampak nyata.
“Hari ini kita telah menyelesaikan satu tahapan penting dengan terpilihnya Ketua Umum DPW dan terbentuknya Tim Formatur. Selanjutnya adalah memastikan hasil Muswil benar-benar diturunkan menjadi struktur yang solid dan program yang dirasakan manfaatnya. Harapannya, lima tahun ke depan BKPRMI DIY semakin hadir di tengah pemuda, remaja masjid, dan masyarakat.”
Sesuai ketentuan Muswil, Haidar bersama Tim Formatur akan menyusun kepengurusan lengkap untuk kemudian diajukan kepada DPP BKPRMI paling lambat 30 hari setelah Muswil. Setelah itu, proses berlanjut pada pengesahan serta persiapan pelantikan atau pengukuhan pengurus.
Haidar menyambut amanah tersebut sebagai tanggung jawab kolektif seluruh keluarga besar BKPRMI DIY. Ia ingin organisasi menjadi rumah bersama bagi pemuda dan remaja masjid untuk berkembang sekaligus mengambil peran sosial.
“Amanah ini tentu bukan amanah pribadi, tetapi amanah bersama. BKPRMI DIY harus menjadi rumah besar bagi pemuda dan remaja masjid. Kita ingin anak-anak muda merasa dekat dengan masjid, tumbuh bersama masjid, mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensinya, dan pada akhirnya mengambil peran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Ia juga menegaskan bahwa tema Muswil harus bergerak dari gagasan menuju program nyata sepanjang lima tahun kepemimpinannya.
“Cinta masjid, pendidikan islam dari masjid harus menjadi fondasi kita. Tugas berikutnya adalah mengokohkan peran organisasi dan menghadirkan program yang benar-benar dirasakan oleh pemuda, remaja masjid, takmir, dan masyarakat. Dakwah harus terus berjalan, tetapi pada saat yang sama pemuda masjid juga harus berdaya.”
Haidar merupakan putra bungsu almarhum Ustadz Jazir, tokoh yang lekat dengan gerakan kemasjidan dan Masjid Jogokariyan. Karena itu, terpilihnya Haidar melalui Muswil yang berlangsung di lingkungan Masjid Jogokariyan membawa konteks tersendiri dalam perjalanan kepemimpinannya.
Namun, Haidar tidak melihat keberlanjutan perjuangan orang tua sebagai keharusan untuk meniru sosok yang sama. Ia memilih membawa nilai pengabdian tersebut ke dalam konteks dan tantangan generasi sekarang.
“Saya tumbuh dengan melihat bagaimana masjid bukan hanya menjadi tempat sholat, tetapi menjadi tempat melayani umat. Nilai itulah yang ingin terus kita hidupkan. Bagi saya, meneruskan perjuangan orang tua bukan berarti harus menjadi sama, tetapi menjaga nilai pengabdian, keikhlasan, dan keberpihakan kepada umat, kemudian menerjemahkannya sesuai tantangan generasi hari ini.”
Untuk memastikan agenda tersebut berjalan, Haidar menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dari kepemimpinannya. Ia menyebut keterlibatan struktur organisasi, senior, takmir masjid, hingga generasi muda menjadi bagian dari kekuatan BKPRMI DIY.
“Saya tidak mungkin menjalankan amanah ini sendiri. BKPRMI DIY akan kuat kalau DPW, DPD, DPK, lembaga-lembaga BKPRMI, para senior, takmir masjid, dan anak-anak muda bergerak bersama. Kita ingin lima tahun ke depan BKPRMI semakin terasa kehadirannya: pemudanya hidup, masjidnya makmur, organisasinya kuat, dan manfaatnya dirasakan masyarakat.”**












