RAKYAT45.COM – Di atas meja kecil yang dipenuhi manik-manik warna-warni, Marlian Dwi Ratih atau yang akrab disapa Ade kembali sibuk merangkai butiran demi butiran kecil menjadi gelang dan bros cantik. Jemarinya bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Di sudut ruangan sederhana itu, lahir bukan hanya aksesoris, melainkan juga harapan yang dirawat dengan kesabaran selama bertahun-tahun.
Bagi Ade, Mahacinta Jewelry bukan sekadar usaha. Ia adalah perjalanan panjang tentang keberanian memulai dari hal kecil, tentang perempuan yang belajar bertahan di tengah keterbatasan, dan tentang mimpi yang perlahan tumbuh dari meja kerja sederhana di Pekanbaru.
Perjalanan itu tentu tidak datang begitu saja. Ada masa ketika Ade harus memikirkan modal usaha agar Mahacinta Jewelry tetap berjalan. Saat usahanya masih berada di tahap awal, ia memberanikan diri meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp10 juta. Keputusan itu menjadi langkah penting yang membantu usahanya terus bergerak.
Kini, seiring berkembangnya Mahacinta Jewelry, Ade kembali mendapatkan dukungan permodalan yang lebih besar demi memperluas usahanya.
“Yang pertama KUR BRI saya pinjam Rp10 juta. Di tahap kedua ini saya pinjam lagi Rp100 juta, semoga saja ke depan lancar pembayarannya,” harap Ade kepada Rakyat45.com, Selasa (26/5/2026).
Meski belum memiliki omzet fantastis, Mahacinta Jewelry kini mampu menghasilkan sekitar Rp25 juta per bulan. Namun bagi Ade, usaha yang ia bangun bukan semata tentang angka dan keuntungan.
Di balik setiap gelang yang terjual dan setiap bros yang dibeli pelanggan, tersimpan rasa syukur yang terus ia jaga. Ia percaya, usaha bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga membuka jalan dan kesempatan bagi banyak orang.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan adanya usaha ini. Untuk bahan baku tidak pernah sulit. Semuanya lancar, umumnya kita ambil bahan di Pekanbaru, walau ada juga beberapa yang didatangkan dari luar daerah,” sebutnya.
Meski demikian, perjalanan Mahacinta Jewelry tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya undangan bazar datang tiba-tiba, sementara stok produk belum sepenuhnya siap. Situasi itu kerap membuat Ade harus berpacu dengan waktu agar semua kebutuhan pameran bisa terpenuhi.
Namun perempuan itu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Ia justru menjadikan tantangan sebagai alasan untuk semakin disiplin menjaga produksi setiap hari.
“Paling kendala kalau ada bazar dari Pertamina yang tiba-tiba. Sementara produksi kami belum terlalu banyak. Karena itu, saya berusaha tetap konsisten membuat produk setiap hari, agar selalu ready,” tuturnya.
Ketekunan itulah yang membuat Ade tidak hanya bergantung pada satu peluang. Ia aktif membuka jalan sendiri demi memperkenalkan Mahacinta Jewelry lebih luas. Dari satu pusat perbelanjaan ke pusat perbelanjaan lain di Pekanbaru, seperti Mal SKA hingga Living World, Ade rutin mengikuti bazar mandiri untuk mendekatkan produknya kepada masyarakat.
“Ya, kita juga sering melakukan bazar mandiri di beberapa mal yang ada di Pekanbaru. Jadi kita tak hanya menunggu undangan bazar dari Pertamina,” ujar perempuan yang kini juga berkolaborasi dengan SLB Negeri Sriwijaya Pekanbaru tersebut.
Di balik kilau manik-manik kecil yang tersusun cantik itu, Ade sejatinya sedang meronce sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar aksesoris. Ia sedang merajut keyakinan bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Bahwa perempuan bisa tumbuh dari langkah sederhana. Dan bahwa UMKM lokal pun memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas.
Dengan penuh harap, Ade juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pertamina melalui Rumah BUMN Pekanbaru yang selama ini membantu perjalanan Mahacinta Jewelry, terutama dalam pemasaran digital dan penguatan branding.
“Untuk Pertamina, terimakasih banyak. Semoga kerjasama ini terus berlanjut. Supaya Mahacinta bisa tumbuh lebih besar, produknya dikenal lebih luas, dan mampu bersaing di pasar global,” tuturnya penuh semangat.
Kini, dari Pekanbaru, cahaya Mahacinta Jewelry tak lagi sekadar memantulkan warna-warni manik-manik. Ia memantulkan kisah tentang ketekunan seorang perempuan yang terus melangkah, meski perlahan. Sebab Ade percaya, mimpi besar tidak selalu lahir dari tempat mewah. Kadang, ia tumbuh dari tangan yang sabar bekerja, doa yang tak pernah putus, dan keberanian untuk terus mencoba setiap hari.***












