Banner Website
Peristiwa

BMKG: El Nino 2026 Diprediksi Capai Puncak Juli-September, Sejumlah Wilayah Diminta Siaga

70
×

BMKG: El Nino 2026 Diprediksi Capai Puncak Juli-September, Sejumlah Wilayah Diminta Siaga

Sebarkan artikel ini
KG: El Nino 2026 Diprediksi Capai Puncak Juli-September
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini karena sejumlah daerah telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan pantauan Rakyat45.com, Senin (29/6/2026) R45/Rls

Rakyat45.com, Jakarta – BMKG memprediksi El Nino 2026 akan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September 2026. Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah pusat dan daerah diminta memperkuat koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi risiko kekeringan, gangguan produksi pangan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini karena sejumlah daerah telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan pantauan Rakyat45.com, Senin (29/6/2026), wilayah di bagian selatan garis khatulistiwa menjadi kawasan yang paling berpotensi terdampak fenomena El Nino.

“Sampai dengan Juni ini ada beberapa daerah yang sudah mengalami musim kemarau. Jadi fenomena elnino mempengaruhi bagian selatan garis khatulistiwa, mulai dari NTT, NTB, Bali, Jawa bagian pesisir, kemudian Sumatera bagian selatan,” ujarnya dalam sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena elnino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri dan disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (29/6/2026).

Menurut Teuku Faisal, dampak El Nino diperkirakan paling signifikan dirasakan di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diproyeksikan berada di bawah kondisi normal jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis.

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena elnino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Oleh karena itu, elnino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau,” sebutnya.

Ia menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Teuku Faisal juga mengingatkan bahwa El Nino berbeda dengan musim kemarau. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperparah kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

Menurutnya, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya elnino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” jelasnya.

BMKG berharap seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan memperkuat koordinasi agar dampak El Nino dapat ditekan semaksimal mungkin, termasuk terhadap ketahanan pangan, kualitas udara, hingga stabilitas inflasi daerah.

“Saya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, akan membuat kita bangsa Indonesia jauh lebih tangguh dan siap dalam menghadapi fenomena iklim ini,” tutupnya.***