Banner Website
Ekbis

BPDP Percepat Hilirisasi, UMKM Perkebunan Didorong Olah Sawit, Kakao, dan Kelapa

20
×

BPDP Percepat Hilirisasi, UMKM Perkebunan Didorong Olah Sawit, Kakao, dan Kelapa

Sebarkan artikel ini
Harga TBS Riau Kembali Naik, Sawit Umur 9 Tahun Tembus Rp3.846 per Kg
Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. (R45/Didesain menggunakn AI)

Rakyat45.com, Jakarta – BPDP UMKM Perkebunan menjadi fokus pengembangan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mempercepat hilirisasi komoditas nasional. Lembaga tersebut mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan hasil riset dan inovasi agar komoditas seperti kelapa sawit, kakao, dan kelapa memiliki nilai tambah lebih tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, dalam kegiatan Bincang UMKM Perkebunan di Roemah, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya memperkuat industri berbasis masyarakat melalui pengembangan produk hilir perkebunan.

Helmi mengatakan Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Selain itu, komoditas kakao dan kelapa juga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui UMKM.

“Selama ini banyak petani sawit hanya menjual tandan buah segar (TBS). Ke depan, kami berharap petani juga mampu menghasilkan produk-produk berbasis sawit, kakao, maupun kelapa melalui UMKM sehingga nilai ekonomi yang diperoleh menjadi lebih besar,” ujar Helmi.

Ia menjelaskan, BPDP tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan dan peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga membuka akses terhadap berbagai hasil penelitian yang siap dikomersialisasikan oleh pelaku UMKM. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan hingga menyentuh sektor usaha kecil.

Salah satu inovasi yang telah dikembangkan ialah pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi bahan baku pembuatan helm. Inovasi tersebut membuktikan bahwa limbah perkebunan dapat diolah menjadi produk industri dengan nilai jual lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Tidak hanya sawit, BPDP juga memperluas pemanfaatan hasil riset pada komoditas kelapa dan kakao. Dengan begitu, pelaku UMKM memiliki lebih banyak pilihan produk yang dapat dikembangkan sesuai potensi wilayah masing-masing.

Menurut Helmi, karakter UMKM yang adaptif dan fleksibel menjadi keunggulan dalam mengadopsi inovasi dibandingkan industri berskala besar. Karena itu, berbagai hasil penelitian yang telah dihasilkan BPDP diharapkan dapat lebih cepat diterapkan dan menghasilkan nilai ekonomi baru.

Selain meningkatkan omzet dan aset usaha, BPDP juga berharap UMKM mampu menjadi bagian dari upaya membangun citra positif komoditas perkebunan Indonesia, khususnya kelapa sawit, yang masih menghadapi berbagai kampanye negatif di pasar global.

“UMKM tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sisi positif sawit kepada masyarakat melalui inovasi dan produk yang dihasilkan,” katanya.

BPDP optimistis kolaborasi antara riset, inovasi, dan penguatan UMKM akan mempercepat hilirisasi sektor perkebunan nasional. Melalui strategi tersebut, nilai tambah komoditas diharapkan terus meningkat, daya saing produk perkebunan Indonesia semakin kuat, serta manfaat ekonomi yang diterima petani dan pelaku UMKM semakin besar.***