Banner Website
Ekbis

Ekraforia 2026, Saat Sejarah Bertemu Masa Depan Ekonomi Kreatif Bengkalis

×

Ekraforia 2026, Saat Sejarah Bertemu Masa Depan Ekonomi Kreatif Bengkalis

Sebarkan artikel ini
Panitia Ekraforia 2026 Simfoni Simetria menunjukkan karya visual bernilai sejarah kepada Wabup Bengkalis DR. H. Bagus Santoso, Edy Haryana, Plt. Kepala Disparbudpora Bengkalis Ardiansyah, S.T., M.T., dan tamu undangan di dalam Penjara Belanda Huis Van Bewering, Jumat malam (14/8/2026)./R45/Indra.

Rakyat45.com, Bengkalis – Masa lalu tidak selalu berhenti sebagai kenangan. Sebuah bangunan bersejarah di Bengkalis justru menjadi titik temu ketika pemerintah, pelaku usaha, komunitas, seniman dan generasi muda mulai membicarakan bagaimana kreativitas dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi.

Gagasan itu mengemuka dalam Ekraforia 2026 Simfoni Simetria yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Bengkalis di Penjara Belanda Huis Van Bewering, Jalan Pahlawan Bengkalis, Jumat (14/8/2026).

Pemilihan kawasan bersejarah tersebut bukan sekadar persoalan tempat. Jejak sejarah dipertemukan dengan gagasan baru tentang ekonomi kreatif, sekaligus membuka pandangan bahwa ruang heritage dapat memiliki fungsi baru sebagai tempat bertumbuhnya kreativitas tanpa kehilangan identitasnya.

Melalui sambutan Bupati Bengkalis Kasmarni, S.Sos., M.MP., yang dibacakan Wakil Bupati Bengkalis DR. H. Bagus Santoso, MP., pemerintah daerah menempatkan Ekraforia sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.

Bagus mengapresiasi keterlibatan BCN, ICCN Bengkalis, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, seni, budaya, kuliner, kerajinan, komunitas dan talenta muda merupakan kekayaan daerah yang dapat dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi.

“Kreativitas harus melahirkan nilai tambah. Karya harus melahirkan peluang usaha. Potensi lokal harus melahirkan kesejahteraan.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa ekonomi kreatif tidak cukup berhenti pada produksi karya. Ada pekerjaan lanjutan yang harus dibangun, mulai dari penguatan sumber daya manusia, penciptaan produk, perluasan jejaring hingga memastikan karya memiliki akses terhadap pasar.

Karena itu, generasi muda didorong berani menciptakan gagasan, mengembangkan kemampuan dan membangun jejaring lebih luas. Ekraforia diharapkan menjadi salah satu pijakan bagi Bengkalis untuk membangun sektor kreatif yang mandiri, kompetitif dan berkelanjutan.

Sejarah sebagai Ruang Kreativitas

Pandangan serupa disampaikan Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Wilayah Riau, Rio Hardiansyah. Ia melihat ekonomi kreatif sebagai salah satu peluang strategis yang dapat memberikan dampak lebih luas terhadap pembangunan Bengkalis.

Menurut Rio, perkembangan ekonomi kreatif memiliki kaitan dengan pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor dan investasi, hingga pengurangan pengangguran.

Namun, potensi tersebut membutuhkan jaringan yang lebih luas. Generasi muda Bengkalis didorong membangun koneksi hingga tingkat nasional dan internasional, dengan pengalaman yang diperoleh dari luar daerah nantinya kembali memberikan manfaat bagi daerah asal.

Ia juga menyoroti pemanfaatan bangunan bersejarah sebagai bagian dari ekosistem kreatif. Kawasan peninggalan Belanda tempat Ekraforia berlangsung dapat dikembangkan menjadi ruang kreativitas dan inovasi, sepanjang pemanfaatannya tetap menjaga karakter serta nilai sejarah bangunan.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Rio mengusulkan keberadaan akademi kreatif sebagai wadah peningkatan keterampilan, pengembangan kapasitas pelaku ekonomi kreatif sekaligus inkubasi bisnis.

Bengkalis juga didorong mengikuti program Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia agar potensi yang dimiliki memperoleh ruang pengembangan, pengakuan dan dukungan yang lebih luas.

Dari Karya Menuju Pasar

Tantangan ekonomi kreatif tidak berhenti pada kemampuan menciptakan produk. Karya yang baik membutuhkan pasar, kelembagaan dan akses usaha agar mampu menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Pada titik inilah Kementerian Koperasi menawarkan koperasi sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat posisi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Wisnu Gunadi bersama Asisten Deputi Bidang Literasi dan Penyuluhan Kementerian Koperasi Edy Haryana menekankan pentingnya kelembagaan koperasi dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha.

Pelaku ekonomi kreatif dapat bergabung dengan koperasi yang telah tersedia atau membentuk koperasi sesuai kebutuhan. Melalui kelembagaan tersebut, pelaku usaha memiliki peluang memperoleh akses terhadap fasilitas, pendampingan dan berbagai program pemerintah.

Sertifikasi produk, termasuk sertifikasi halal, juga menjadi bagian dari penguatan daya saing. Bagi pelaku usaha, sertifikasi bukan hanya persoalan administrasi, tetapi dapat menjadi salah satu pintu untuk memperluas jangkauan pasar.

Ia mengatakan penguatan koperasi merupakan bagian dari upaya pemerintah menempatkan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional, termasuk dalam memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat hingga tingkat desa melalui prinsip kekeluargaan dan kebersamaan.

“Intinya meningkatkan akses pasar dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan bagi kita yang tergabung dalam UKM yang bergerak di bidang kreativitas,” ujar Edy.

Kementerian Koperasi, lanjutnya, akan terus mendorong penguatan koperasi melalui fasilitas, pendampingan dan berbagai program pemerintah.

Tantangan Setelah Ekraforia

Ekraforia 2026 pada akhirnya tidak hanya mempertemukan gagasan tentang budaya dan kreativitas. Forum tersebut memperlihatkan satu mata rantai yang harus dibangun secara bersamaan: identitas daerah sebagai fondasi, kreativitas sebagai penghasil karya, peningkatan kapasitas sebagai penguat, dan koperasi serta pasar sebagai jalur menuju nilai ekonomi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan tersebut bergerak setelah panggung Ekraforia berakhir. Ruang kreatif, akademi atau inkubasi usaha, peningkatan keterampilan, sertifikasi produk dan perluasan pasar membutuhkan program lanjutan agar kreativitas tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Jika kesinambungan itu dapat dibangun, Bengkalis memiliki peluang mengubah kekayaan budaya dan talenta lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi generasi muda dan pelaku UMKM.

Pantauan Rakyat45.com, kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bengkalis Hendrik Firnanda Pangaribuan, Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis Irmi Syakip Arsalan dan Dr. H. Muhammad Isa Selamat, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Wisnu Gunadi, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau H. Tekad Parbatas Setia Dewa, S.T., M.T.

Hadir pula Dandim 0303/Bengkalis yang diwakili Danramil 01/Bengkalis Kapten Arm. Yogi Sudarso, Kapolres Bengkalis yang diwakili Kabag SDM Polres Bengkalis AKP M. Sahudi, Plt. Kepala Disparbudpora Kabupaten Bengkalis Ardiansyah., ST.,MT, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bengkalis Mohammad Azmir, Ketua Harian ICCN Viki Arif Herinadarma, Ketua BCN Bengkalis Riza Zuhelmy, M.Si., Ketua BRCN Risky Bagus Oka, serta para tamu undangan dan masyarakat Kabupaten Bengkalis.**