Nasional

Saat Wartawan Ditekan, Wahyudi El Panggabean: Hadapi dengan Komunikasi Berkelas

×

Saat Wartawan Ditekan, Wahyudi El Panggabean: Hadapi dengan Komunikasi Berkelas

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC) Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT, mendorong wartawan menghadapi tekanan dan narasumber arogan dengan komunikasi cerdas. Minggu (30/8)./R45/Indra.

Rakyat45.com, Pekanbaru – Ketika pertanyaan jurnalistik berujung pada serangan pribadi, yang diuji bukan hanya keberanian seorang wartawan, tetapi juga kemampuannya mengendalikan percakapan. Jurnalis senior Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT, menilai komunikasi cerdas wartawan profesional menjadi salah satu kunci menghadapi narasumber yang mencoba merendahkan atau menekan saat wawancara.

Menurut Wahyudi, wartawan tidak semestinya membiarkan intimidasi verbal mengubah posisi mereka menjadi pihak yang hanya mengeluhkan perlakuan buruk. Ketegasan, penguasaan situasi, dan kemampuan memilih respons justru diperlukan agar tugas jurnalistik tetap berjalan.

Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC) tersebut menyampaikan pandangan itu di hadapan sejumlah pemimpin redaksi media berita di kediamannya, Pekanbaru, Ahad (30/8) sore.

Penulis produktif buku-buku jurnalistik nasional itu mengingatkan, pemberitaan mengenai penghinaan terhadap wartawan tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Tanpa sikap taktis ketika kejadian berlangsung, sorotan tersebut bahkan berpotensi berubah menjadi bahan cemoohan publik.

“Jangan sedikit-sedikit melapor bahwa Anda dilecehkan, kemudian memberitakan pelecehan dan penghinaan itu pula di media sebagai bahan cemooh orang. Anda punya hak untuk membela diri dan menyerang balik dengan komunikasi yang cerdas tetapi mematikan,” ujar Wahyudi.

Ia kemudian menyoroti sejumlah peristiwa yang memperlihatkan arogansi narasumber, termasuk kasus Politisi Benny K. Harman beberapa waktu lalu serta perselisihan Hotman Paris Hutapea yang sempat melontarkan kalimat merendahkan “Lu punya otak enggak?” kepada jurnalis.

Bagi Wahyudi, situasi semacam itu semestinya menjadi momentum bagi wartawan untuk menunjukkan kapasitas profesional. Jurnalis tidak perlu terpancing emosi ataupun langsung meninggalkan percakapan; mereka dapat mengubah arah interaksi melalui ketenangan dan ketajaman retorika.

Konsep tersebut ia gambarkan sebagai kemampuan turning the tables, yakni membalik keadaan melalui respons yang tetap terukur. Penulis buku “Strategi Wartawan Menembus Narasumber” dan “Untukmu yang Ingin Menjadi Wartawan Sukses” itu juga mengenalkan pendekatan witty comeback sebagai contoh komunikasi berkelas ketika menghadapi ucapan arogan.

Salah satu ilustrasinya muncul ketika seorang tokoh bertanya, “Lu punya otak gak?”

Wartawan, kata Wahyudi, tidak perlu membalas dengan makian. Respons dapat diarahkan kembali pada substansi pertanyaan.

“Loh, kalau Anda punya otak, jawab dong pertanyaan saya secara elegan!”

“Pembalikan logika ini dinilai jauh lebih mematikan karena langsung menelanjangi kepanikan narasumber di depan publik,” tegas Wahyudi.

Jurnalis senior yang menekuni profesinya sejak 1985 itu menjelaskan, serangan terhadap pribadi wartawan atau ad hominem dapat menunjukkan bahwa narasumber mulai bergeser dari persoalan utama. Ketika argumen substansial melemah, serangan personal berpotensi digunakan untuk mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang diajukan.

Karena itu, wartawan perlu memahami kekuatan sekaligus batas profesionalnya. Wahyudi mengingatkan bahwa jurnalis mendapat perlindungan undang-undang dalam menjalankan fungsi pers, termasuk ketika menguji akuntabilitas publik.

“Menguasai teknik komunikasi tingkat tinggi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan senjata utama untuk menjaga marwah profesi jurnalisme,” tegas Wahyudi.

Ia selanjutnya mendorong pemimpin redaksi dan wartawan memperkuat literasi komunikasi taktis serta psikologi massa di ruang redaksi. Menurutnya, kemampuan tersebut perlu dipersiapkan sebelum wartawan berhadapan dengan karakter narasumber yang keras atau dominan.

Mentalitas korban, kata Wahyudi, tidak akan banyak membantu ketika wartawan berada dalam situasi penuh tekanan. Sebaliknya, kecerdasan intelektual dan kemampuan membaca situasi diperlukan agar jurnalis tetap mampu mengarahkan percakapan tanpa kehilangan kendali.

Pesan Wahyudi pada akhirnya bukan sekadar tentang cara membalas ucapan kasar. Ia menempatkan kemampuan berkomunikasi sebagai bagian dari kompetensi jurnalistik yang menentukan bagaimana wartawan mempertahankan martabat profesinya di ruang publik.

Hanya dengan komunikasi yang berkelas, profesi wartawan akan dihormati secara terhormat. “Bukan ditakuti karena ancaman laporan semata,” katanya.**