RAKYAT45.COM – Satuan Tugas (Satgas) Karhutla berkolaborasi dengan warga lokal menggempur titik api di kawasan Cagar Biosfer Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak. Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tersebut membumihanguskan sekitar dua hektare areal gambut sebelum akhirnya berhasil dikendalikan.
Usai menerima laporan, Bupati Siak, Afni Zulkifli, meluncur langsung ke lokasi untuk mengawal proses pemadaman. Ia memastikan lidah api utama telah padam, namun menginstruksikan pendinginan ekstra lantaran bara di dalam lapisan tanah gambut masih berpotensi menyala kembali.
“Alhamdulillah, api dapat dipadamkan. Saat ini tim Satgas dan masyarakat sedang melakukan pendinginan lahan. Namun saya minta api dipastikan benar-benar padam dan gambutnya basah,” ujar Afni, Minggu (30/8/2026) sore.
Menembus akses lokasi berdebu dan bergelombang, Afni menginstruksikan penghulu setempat untuk memobilisasi warga dalam operasi pencegahan Karhutla.
“Pak Penghulu, besok kumpulkan masyarakat. Kampung kita lagi jadi sorotan karena karhutla. Periuk nasi orang kampung ada di Cagar Biosfer ini. Jadi kawasan ini harus sama-sama kita jaga. Jangan hanya mengandalkan petugas,” kata Afni.
Ia menegaskan pentingnya partisipasi aktif pemuda dan penduduk asli untuk membentengi wilayah pemukiman mereka dari maraknya pembukaan lahan secara ilegal di musim kemarau.
“Titik apinya banyak, kita tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kalau masyarakat ikut membantu tentu akan mempermudah. Syukur-syukur anak muda dan orang kampung asli merasa memiliki untuk menjaga kampung ini,” tambahnya.
Afni menginstruksikan jajaran camat hingga kepala desa untuk mendata kepemilikan lahan secara detail berdasarkan titik koordinat demi mempermudah mitigasi kebencanaan.
“Camat dan Penghulu wajib punya data lahan yang ada di kampungnya. Siapa pemiliknya, di mana titik koordinatnya. Jangan takut melapor kalau ada yang mencurigakan. Mari kita sama-sama menjaga kampung ini,” kata dia.
Bupati perempuan pertama di Siak itu mengingatkan bahwa 60 persen daratan Kabupaten Siak merupakan kualifikasi tanah gambut yang sangat rentan jika terpapar api.
“Api sekecil apa pun jangan dianggap sepele. Kalau kena angin, bisa hidup lagi dan menjalar ke mana-mana. Kabupaten Siak ini 60 persen wilayahnya gambut. Kalau sudah terbakar, padamnya lama,” sambungnya.
Di lokasi, Afni terlihat memegang pelepah sawit untuk memukul sisa-sisa bara api yang berhembus angin.
Sementara itu, Penghulu Kampung Tasik Betung, Chairul Anas, mengonfirmasi bahwa warga desa telah bersiaga dan melakukan pemadaman swadaya sejak malam hari menggunakan peralatan seadanya.
“Awalnya sekitar setengah hektare, Buk. Malamnya kami mendapat informasi api mulai merambat. Dengan peralatan seadanya, kami menuju lokasi. Yang penting kompak menjaga api supaya tidak cepat meluas. Saya juga terus mengingatkan warga agar tidak membuang puntung rokok saat memancing atau melakukan aktivitas yang bisa memicu kebakaran,” ucapnya.***










