Banner Website
Daerah

Dinas P3AP2KB Riau: Keluarga Benteng Utama Cegah Radikalisme dan Terorisme

12
×

Dinas P3AP2KB Riau: Keluarga Benteng Utama Cegah Radikalisme dan Terorisme

Sebarkan artikel ini
Program RATAKAN Perkuat Ketahanan Keluarga Cegah Radikalisme
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza, saat mendukung pelaksanaan Program RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) yang dijalankan Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di sejumlah sekolah. (R45/Y)

Rakyat45.com, Pekanbaru – Pemerintah Provinsi Riau menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai garda terdepan dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, toleran, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza, saat mendukung pelaksanaan Program RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) yang dijalankan Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di sejumlah sekolah.

Menurut Fariza, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter, moral, serta ketahanan ideologi anak sejak usia dini. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai toleransi, menghormati keberagaman, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum mengenal lingkungan luar, anak lebih dahulu belajar dari orang tua dan keluarga. Karena itu, pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai kebangsaan, toleransi, serta kasih sayang dalam keluarga,” ujar Fariza.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi informasi dan media sosial saat ini menjadi tantangan baru dalam pola pengasuhan anak. Kemudahan akses informasi membuat anak dan remaja lebih rentan terpapar konten yang mengandung ujaran kebencian, intoleransi, hingga propaganda yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Karena itu, menurutnya, orang tua tidak hanya bertugas mengawasi penggunaan teknologi digital, tetapi juga harus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.

“Orang tua perlu hadir di tengah perkembangan teknologi yang dihadapi anak-anak. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman yang benar, dan menjadi tempat bertanya yang nyaman ketika anak menemukan informasi yang membingungkan di ruang digital,” katanya.

Fariza mengapresiasi Program RATAKAN yang digagas Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program tersebut dinilai menjadi salah satu upaya konkret dalam memperkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman paham kekerasan dan ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

“Kami menyambut baik dan mendukung penuh Program RATAKAN yang dilaksanakan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada peserta didik, tetapi juga meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila,” ungkapnya.

Dari pantauan Rakyat45.com, Dinas P3AP2KB Provinsi Riau terus mendorong berbagai program penguatan ketahanan keluarga, peningkatan kualitas pengasuhan, dan perlindungan anak dari berbagai ancaman sosial yang berkembang di masyarakat.

Fariza menilai keluarga yang harmonis, komunikatif, dan penuh perhatian akan lebih mampu membangun ketahanan psikologis anak sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun propaganda yang mengarah pada perilaku intoleran dan ekstrem.

“Ketika anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga, mereka akan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan berpikir yang lebih baik dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia juga mengajak para orang tua untuk membiasakan budaya diskusi dalam keluarga mengenai nilai-nilai kebangsaan, toleransi, etika bermedia sosial, serta bahaya penyebaran informasi yang mengandung kebencian dan kekerasan.

Program RATAKAN sendiri hingga kini telah menjangkau 94 sekolah di Provinsi Riau dengan total 84.369 siswa, 1.972 guru, 135 guru bimbingan konseling, dan 66 kepala sekolah. Capaian tersebut menjadi bukti kolaborasi antara Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri, Pemerintah Provinsi Riau, dunia pendidikan, dan keluarga dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

“Membangun generasi yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Ketika seluruh pihak bergerak bersama, kita akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan cinta tanah air,” tegasnya.***