Rakyat45.com, Sleman – Keselamatan di jalan raya bermula dari kebiasaan yang dibangun sebelum seseorang menyalakan kendaraan. Karena itu, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk perilaku tertib berlalu lintas. Pesan tersebut menjadi bagian utama edukasi keselamatan yang digelar Yayasan Putri Anugrah Sejati bersama Jasa Raharja di Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta itu diikuti ratusan ibu-ibu PKK, Perempuan Tani, serta Karang Taruna dari Kabupaten Kulon Progo dan Sleman. Selain membahas keselamatan berkendara, peserta mendapatkan pemahaman mengenai perlindungan dasar bagi korban kecelakaan lalu lintas.
Pembina Yayasan Putri Anugrah Sejati, Dwi Susilowati, memaparkan data kecelakaan lalu lintas di Sleman sepanjang Januari hingga Agustus 2026 sebagai gambaran seriusnya persoalan keselamatan di jalan.
“Berdasarkan data dari Polresta Sleman, jumlah kerban kecelakaan lalu – lintas dalam rentang waktu Januari – Agustus 2026 sebanyak 1.998 korban dengan 102 orang korban meninggal dunia. Sedangkan data dari kepolisian, kecelakaan umumnya terjadi karena pelanggaran lalu – lintas, kelayakan jalan, dan cuaca buruk. Masyarakat sudah tau etika berkendara, tapi hanya tidak dilaksanakan.”
Dwi menilai persoalan tersebut tidak berhenti pada pemahaman terhadap aturan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan itu berubah menjadi perilaku yang konsisten, terutama dalam lingkungan keluarga.
“Hal tersebut disampaikan oleh Pembina Yayasan Putri Anugrah, Dwi Susilowati, mengatakan peran ibu – ibu sangat penting untuk menekan jumlah kecelakaan. Dengan bekal pengetahuan yang kita berikan, ibu – ibu dapat memberikan pesan dan nasehat kepada keluarganya, terutama anak – anaknya untuk tertib berlalu – lintas,” ujarnya.
Menurut Dwi, peserta juga dibekali pemahaman mengenai langkah memperoleh santunan apabila kecelakaan terjadi. Edukasi tersebut menghadirkan narasumber dari kepolisian dan Jasa Raharja agar masyarakat memahami aspek keselamatan sekaligus perlindungan setelah kecelakaan.
Ia berharap pesan yang diterima peserta tidak berhenti di dalam forum. Kesadaran itu, kata dia, perlu diteruskan kepada lingkungan sekitar, termasuk dengan memastikan pengendara memiliki SIM dan kendaraan yang digunakan memenuhi kelengkapan.
“Kedepan, kita juga akan melakukan edukasi kepada anak – anak muda di Karang Taruna terkait kesadaran membayar pajak, karena akan bermanfaat dan kembali kepada kita semua,” tutup Dwi Susilowati.
Kepala Kanwil Jasa Raharja Provinsi DIY, Teguh Afriyanto, kemudian mengajak ibu-ibu mengambil posisi lebih aktif sebagai agen keselamatan lalu lintas. Ia menilai perubahan dapat dimulai dari kepatuhan sederhana, termasuk mengenakan helm saat berkendara.
“Lanjutnya, setiap berkendara harus mematuhi peraturan lalu – lintas, karena tertib lalu – lintas cermin budaya bangsa. Masyarakat yang santun akan lebih bersolidaritas dengan pengendara lain.”
Teguh juga mengingatkan pengguna jalan agar tidak membawa ego ketika berada di jalan raya. Baginya, keselamatan membutuhkan keterlibatan bersama karena kecelakaan dapat membawa dampak dan kerugian bagi banyak pihak.
“Perlu peran kita bersama, seperti ibu – ibu yang memegang peran penting dalam berlalu – lintas di jalan seperti memberikan edukasi, sebab kecelakaan lalu – lintas menjadi pengalaman yang tidak mengenakan karena membawa kerugian kita semua,” jelasnya.
Teguh turut menjelaskan bahwa dana santunan bagi korban kecelakaan berasal dari pajak yang dibayarkan masyarakat melalui Samsat.
Persoalan budaya berkendara juga menjadi perhatian Anggota Komisi VI DPR RI, Totok Hedi. Ia melihat perilaku pengguna jalan sebagai gambaran bagaimana masyarakat menghormati orang lain di ruang publik.
“Perilaku berkendara itu menjadi wajah kebudayaan. Namun, saat ini banyak pengendara sudah kehilangan cara menghormati orang lain saat berkendara di jalan raya. Kita sudah kehilangan cara menghormati orang lain melalui cara berkendara berlalu – lintas,” ucapnya.
Totok bahkan menggambarkan persoalan tersebut melalui gurauan mengenai kebiasaan berkendara di Yogyakarta.
“Ada gurauan, Yogyakarta tempat orang yang ramah dan sopan, tetapi tidak ada yang mau mengalah saat di jalan. Orang kota selalu takut berkendara di Jogja,” tambahnya.
Menurut Totok, perubahan kultur lalu lintas membutuhkan keberanian untuk melakukan otokritik. Kebiasaan yang selama ini dianggap wajar perlu dievaluasi agar keselamatan dan penghormatan terhadap sesama pengguna jalan kembali menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
“Otokritik kepada para pengguna jalan perlu terus dilakukan untuk membangun kesadaran bersama dalam berlalu – lintas. Kultur dan habit berlalu – lintas harus diubah,” katanya.
Totok juga menyoroti perubahan kebiasaan masyarakat seiring berkurangnya penggunaan sepeda dan meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor. Menurutnya, perubahan tersebut turut memengaruhi cara pengguna jalan mengambil posisi saat berkendara.
“Dulu bersepeda di pinggir, naik motor selalu di pinggir karena habit bersepeda. Hari ini orang sudah jarang naik sepeda, sepeda motor bisa ke kiri ke kanan di tengah,” katanya.
Rangkaian edukasi tersebut menempatkan keselamatan lalu lintas sebagai tanggung jawab yang melampaui satu institusi. Keluarga menjadi ruang pertama untuk membentuk kebiasaan, sementara masyarakat, kepolisian, Jasa Raharja, dan pemangku kepentingan lainnya memiliki peran untuk memperkuat budaya tertib, saling menghormati, dan mengutamakan keselamatan di jalan.**












