Peristiwa

Enam Hari Bertahan di Lokasi Karhutla, Kapolres Meranti Padamkan Api hingga Dini Hari

×

Enam Hari Bertahan di Lokasi Karhutla, Kapolres Meranti Padamkan Api hingga Dini Hari

Sebarkan artikel ini
Kapolres Meranti AKBP Gede Adi enam hari bertahan di lokasi Karhutla Gemala Sari, memimpin pemadaman dan pendinginan hingga dini hari. Selasa (8/9/2026)./R45/AH.

Rakyat45.com, Meranti – Enam hari berada di tengah lahan gambut yang terbakar tidak membuat Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita, S.I.K., meninggalkan garis depan. Bersama personel gabungan, ia terus memimpin upaya pemadaman Karhutla di Dusun Penapat, Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang, bahkan hingga dini hari.

Memasuki hari keenam penanganan kebakaran hutan dan lahan, Selasa (8/9/2026), Kapolres Meranti kembali turun langsung ke lokasi. Sejak api meluas dan sulit dikendalikan, AKBP Gede Adi memilih berada bersama personel di lapangan untuk memastikan kebakaran tidak terus menjalar.

Panas, asap, debu, serta medan gambut yang berat menjadi tantangan yang dihadapi setiap hari. Aktivitas pemadaman pun kerap berlangsung hingga larut malam, sementara waktu istirahat hanya tersisa beberapa jam sebelum petugas kembali memantau perkembangan api.

“Kalau api belum bisa kita kendalikan, kita tidak bisa meninggalkan lokasi. Kita harus memastikan api tidak menjalar dan terus dilakukan pemadaman serta pendinginan,” kata Gede Adi.

Tantangan utama datang dari karakteristik lahan gambut yang terbakar. Api tidak hanya menyala di permukaan, tetapi bara dapat bertahan di bawah tanah dengan kedalaman sekitar tiga hingga empat meter dan kembali muncul ketika mendapat suplai udara.

Angin kencang dari arah laut juga membuat situasi semakin sulit. Perubahan arah angin menyebabkan pergerakan api sulit diprediksi sehingga kawasan yang sebelumnya terlihat terkendali berpotensi kembali terbakar.

Dalam kondisi tersebut, Gede Adi tidak hanya memberikan arahan dari posko. Ia ikut memantau medan, mengatur pergerakan personel dan memastikan pemadaman menjangkau titik-titik api yang sulit diakses.

Pekerjaan di lapangan bahkan baru berhenti ketika malam telah jauh berjalan. Setelah berjibaku hingga sekitar pukul 02.00 WIB, petugas hanya memiliki waktu istirahat singkat sebelum kembali memulai aktivitas sekitar pukul 05.00 WIB.

“Memang kondisinya berat. Tapi yang paling penting bagaimana api ini segera dikendalikan agar tidak meluas,” ujarnya.

Karhutla di Desa Gemala Sari sebelumnya telah meluas hingga sekitar 85 hektare. Luasan kebakaran membuat tim harus bekerja secara bertahap dengan mengejar titik api sekaligus melakukan pendinginan untuk mencegah bara kembali muncul dari dalam gambut.

Hingga Selasa pagi pukul 06.00 WIB, pemantauan di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti masih mendeteksi satu fire spot dengan tingkat intensitas medium di Desa Gemala Sari. Titik tersebut berada pada koordinat 0ยฐ55’12.22″ N dan 102ยฐ58’59.16″ E atau sekitar 0.92006, 102.9831.

Sementara hotspot tidak terpantau dan kondisi cuaca dilaporkan cerah. Tidak terdapat pula laporan kejadian maupun titik banjir di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti.

Upaya pengendalian Karhutla terus dilakukan bersama jajaran Polres Kepulauan Meranti, Masyarakat Peduli Api (MPA), tim PT SRL, PT NSP, serta masyarakat setempat. Seluruh unsur masih fokus memadamkan api dan melakukan pendinginan di kawasan terdampak.

Bagi petugas, api yang terlihat di permukaan bukan satu-satunya ancaman. Bara yang tersembunyi di dalam lapisan gambut dapat kembali menyala dan memicu kebakaran baru apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Karena itu, meski api mulai terkendali di sejumlah bagian, Kapolres memastikan operasi di lapangan belum dihentikan.

“Kita tidak hanya mengejar api yang terlihat. Pendinginan juga harus dilakukan supaya bara di bawah gambut tidak kembali menyala,” tegasnya.**