Rakyat45.com, Meranti – Karhutla Meranti tidak hanya berhadapan dengan persoalan api, tetapi juga medan kepulauan yang membuat pengerahan personel dan peralatan membutuhkan waktu. Tantangan itu mendorong Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti memperkuat pencegahan melalui pengelolaan lahan sekaligus menyiapkan penguatan keamanan di Pulau Rangsang.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan ketika Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn.) H. Asmar menerima kunjungan Tim Markas Besar (Mabes) TNI di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2026). Pertemuan itu turut membahas kawasan hutan dan kondisi strategis Pulau Rangsang.
Asmar mengatakan karakter geografis Meranti membuat respons terhadap kebakaran tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Sebagian wilayah hanya bisa dijangkau melalui jalur laut, sehingga mobilisasi personel dan peralatan menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk penanganan segala macam kejadian kebakaran itu agak lamban kita dari kabupaten karena kita menggunakan angkutan laut,” kata Asmar.
Atas kondisi tersebut, pemerintah daerah tidak ingin penanganan berhenti pada pemadaman ketika api sudah muncul. Asmar mendorong langkah pencegahan melalui pemanfaatan lahan yang selama ini belum dapat dikelola masyarakat karena berstatus kawasan hutan.
Menurutnya, ruang pengelolaan yang diberikan secara legal dapat membuat lahan lebih produktif sekaligus memudahkan pengawasan. Ia menyebut kelapa, singkong, dan tanaman produktif lainnya sebagai contoh komoditas yang dapat dikembangkan.
Pemprov Riau Kebut Finalisasi APBD-P 2024, Target Pekan Ini Rampung
14 Oktober 2024“Kalau masyarakat diberikan ruang untuk mengelola secara legal, lahan tersebut bisa dimanfaatkan sekaligus diawasi. Misalnya ditanami kelapa, singkong atau tanaman produktif lainnya,” ujarnya.
Asmar kemudian mencontohkan program peremajaan kelapa yang memiliki target sekitar 3.500 hektare. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 2.000 hektare yang dapat dikelola, sedangkan 1.500 hektare lainnya berada dalam kawasan hutan.
“Programnya 3.500 hektare, tetapi yang bisa dikelola hanya sekitar 2.000 hektare. Sekitar 1.500 hektare tidak bisa karena masuk kawasan hutan,” katanya.
Persoalan lain yang ikut menjadi perhatian ialah posisi Pulau Rangsang. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan kawasan luar negeri dan menjadi jalur lalu lintas kapal, sehingga Pemkab Meranti merencanakan pembangunan pos terpadu untuk memperkuat pengawasan.
“Rencananya di sana akan ada pos terpadu. Ada unsur Angkatan Darat, Angkatan Laut, kepolisian dan instansi terkait lainnya,” jelas Asmar.
Sementara itu, Laksamana TNI Dr. Imam Hidayat, Sp.S., mengatakan Mabes TNI telah meninjau sejumlah pos di Merbau dan wilayah Meranti. Tim juga berinteraksi dengan pemerintah daerah serta masyarakat selama pelaksanaan penugasan.
“Kami dari Mabes TNI sangat berterima kasih atas sambutan dan kesiapan yang diberikan,” ujar Imam.
Menurut Imam, keberhasilan menghadapi karhutla tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan api. Pencegahan menjadi faktor penting, terutama karena karakter lahan gambut memungkinkan api bertahan di dalam tanah dan kembali muncul setelah permukaan dinyatakan padam.
Karena itu, Imam mendorong penguatan deteksi dini, kesiapsiagaan, edukasi masyarakat, serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Latihan pemadaman yang dilakukan rutin juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapan personel menghadapi potensi kebakaran.
“Alhamdulillah memang sesuai dengan yang kita harapkan. Saya lihat mereka setiap hari melakukan latihan-latihan pemadaman. Alhamdulillah memang sesuai SOP,” katanya.
Mabes TNI juga melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab api dapat kembali muncul pada lahan gambut setelah kebakaran dinyatakan padam. Untuk aspek pertahanan, Imam menyebut kebutuhan penguatan unsur darat, laut dan udara harus disesuaikan dengan karakter geografis wilayah Meranti.
Setelah menjalankan penugasan selama 28 hari, Satgas Mabes TNI mengakhiri tugasnya di Kepulauan Meranti. Asmar berharap kerja sama yang telah terbentuk tetap berlanjut untuk memperkuat pencegahan karhutla sekaligus mendukung keamanan wilayah strategis.**












