Banner Website
Ekbis

Dari Singkong Murah Menjadi Mimpi Besar, Perjalanan Ibu Elis Menembus Pasar Dunia dari Rumah Tipe 36

26
×

Dari Singkong Murah Menjadi Mimpi Besar, Perjalanan Ibu Elis Menembus Pasar Dunia dari Rumah Tipe 36

Sebarkan artikel ini
Dari Singkong Murah Menjadi Mimpi Besar
Kripik Singkong Aira. (R45/MD)

RAKYAT45.COM – Deretan kemasan kripik singkong memenuhi rak-rak kayu di teras sebuah rumah tipe 36 di Jalan Suka Karya, Perumahan Asta Karya, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tuah Madani, Kota Pekanbaru, Rabu (22/6/2026).

Aroma gurih bumbu masih menguar dari ruang produksi sederhana yang menyatu dengan rumah. Sebuah kuali bekas menggoreng terletak di sudut ruangan. Tak jauh dari sana, alat perekat plastik dan pengaduk bumbu berbahan stainless steel yang tersambung ke dinamo tampak siap digunakan kembali.

Di tengah kesibukan itu, Yukhonis atau yang akrab disapa Ibu Elis tampak telaten memasukkan kripik singkong yang baru matang ke dalam kemasan plastik. Gerak tangannya cepat dan terlatih. Sulit membayangkan bahwa usaha yang kini mampu memproduksi puluhan kilogram kripik setiap hari itu lahir dari serangkaian kegagalan panjang.

Perempuan berusia 50 tahun tersebut dulunya bekerja sebagai karyawan hotel di Pekanbaru. Namun pada 2013, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk fokus membesarkan keempat anaknya.

Meski demikian, Elis tidak ingin hanya berdiam diri di rumah.

Berbagai usaha pernah dicobanya. Ia menjual bakpia dan getuk goreng. Namun usaha-usaha itu tidak berjalan sesuai harapan.

Hingga suatu hari, sang kakak memberikan sebuah saran sederhana yang kemudian mengubah arah hidupnya.

Saat itu harga singkong hanya sekitar Rp1.500 per kilogram. Murah dan mudah didapat. Dari situlah muncul ide untuk mencoba membuat kripik singkong.

Ide itu terdengar sederhana. Namun proses mewujudkannya ternyata jauh dari mudah.

Pada percobaan awal, hasil kripik buatannya gagal total. Kripik yang dihasilkan masih lembek, tidak kering, dan hanya mampu bertahan satu malam.

Kegagalan demi kegagalan terus datang.

Namun Elis memilih bertahan.

Ia belajar dari pengalaman, meminta masukan dari banyak orang, dan terus melakukan percobaan. Hampir setahun lamanya ia mencari formula yang tepat.

Usahanya akhirnya membuahkan hasil.

Kripik singkong buatannya berhasil menjadi renyah, gurih, dan tahan lama. Dari dapur rumah sederhana itu lahirlah Kripik Singkong Aira.

Perlahan namun pasti, usaha tersebut mulai berkembang.

Kini, produksi Kripik Singkong Aira mencapai sekitar 70 kilogram per hari.

Dalam proses produksinya, Elis tidak bekerja sendiri. Sang suami, Irfan Masri, turut membantu setiap tahapan produksi. Ketika pesanan meningkat, sejumlah tetangga sekitar juga ikut dilibatkan.

Ada yang membantu menyerut singkong, menggoreng, hingga mengemas produk. Usaha rumahan itu pun perlahan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar.

Kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil nyata.

Dari usaha tersebut, Elis kini mampu meraih omzet hingga Rp15 juta setiap bulan.

Rumah tipe 36 yang dahulu menjadi saksi awal perjuangannya kini telah direnovasi. Seluruh lantainya sudah berkeramik dan bahkan telah dipersiapkan untuk pembangunan dua lantai.

Namun pencapaian yang paling membanggakan bagi Elis bukanlah perubahan fisik rumahnya.

Usaha itu berhasil menjadi jalan bagi keempat anaknya untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

Dua anaknya kini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Andalas dan Universitas Riau.

Di balik setiap kemasan kripik yang terjual, tersimpan biaya pendidikan, kebutuhan keluarga, dan harapan seorang ibu terhadap masa depan anak-anaknya.

Untuk pemasaran, Kripik Singkong Aira banyak disalurkan melalui reseller. Produk tersebut juga dititipkan di sejumlah toko dan rumah makan. Dukungan keluarga turut membantu memperluas jangkauan pemasaran.

“Tapi yang paling banyak memang diambil reseller,” ujarnya.

Cita rasa pedas dan renyah menjadi daya tarik utama produk Aira. Dari Pekanbaru, kripik singkong itu kini telah menjangkau konsumen di luar negeri.

“Sudah sampai ke Malaysia dan Belanda,” kata Elis, diamini sang suami.

Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak selalu mulus. Kurangnya pengalaman, kegagalan produksi, hingga kendala pemasaran menjadi tantangan yang harus dihadapinya.

Di tengah perjalanan itu, Elis mendapat dorongan tambahan melalui program Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari Bank Rakyat Indonesia.

Pada 2020, ia memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp50 juta. Dua tahun kemudian, ia kembali mendapatkan pembiayaan serupa. Lalu pada tahun lalu, BRI kembali mengucurkan dana sebesar Rp100 juta untuk mendukung pengembangan usahanya.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli peralatan produksi baru dan membangun ruang produksi yang lebih layak serta aman.

Bagi Elis, tambahan modal tersebut menjadi salah satu pijakan penting untuk meningkatkan kapasitas usahanya.

Kisah Elis merupakan satu dari ribuan cerita pelaku UMKM yang tumbuh bersama program KUR di Riau.

Sepanjang 2025, BRI Wilayah Riau berhasil menyalurkan KUR senilai Rp5,26 triliun kepada pelaku UMKM di berbagai sektor usaha.

Regional CEO BRI Pekanbaru, Regional CEO BRI Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana, mengatakan UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah sekaligus bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

“Tahun ini kami ingin fokus membina lebih banyak UMKM di Riau,” kata Dian.

Menurutnya, dukungan BRI tidak hanya berbentuk pembiayaan.

“Kami juga bantu pelaku UMKM untuk berkembang, lewat pelatihan pengelolaan usaha, cara promosi yang efektif, dan pengemasan produk yang menarik,” jelasnya.

Dari total penyaluran KUR tersebut, sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan nilai mencapai Rp3,72 triliun atau 70,72 persen dari keseluruhan pembiayaan. Sementara sektor perdagangan menerima Rp1,02 triliun atau 19,39 persen dari total penyaluran.

Angka tersebut mencerminkan struktur ekonomi Riau yang masih didominasi sektor perkebunan, pertanian, hortikultura, peternakan, dan berbagai usaha agribisnis lainnya.

Meski akses pembiayaan semakin luas, masih ada sejumlah tantangan yang kerap dihadapi calon penerima KUR.

Mulai dari riwayat kredit atau SLIK OJK yang kurang baik akibat tunggakan pinjaman digital dan layanan paylater, usaha yang belum berjalan minimal enam bulan, hingga persyaratan administrasi yang belum lengkap seperti kepemilikan NPWP untuk pengajuan di atas Rp50 juta.

Selain itu, terdapat pula kendala lain seperti pasangan calon debitur yang masih memiliki pinjaman komersial serta batas maksimal eksposur KUR Mikro yang telah terpenuhi.

Meski demikian, program KUR terbukti mampu mendorong UMKM berkembang dan naik kelas.

Sepanjang 2025, sebanyak 5.578 debitur tercatat berhasil graduasi atau naik kelas dari segmen mikro ke jenjang usaha yang lebih tinggi. Hingga Mei 2026, jumlah debitur yang berhasil graduasi kembali bertambah menjadi 1.037 debitur.

Saat ini, BRI Kantor Wilayah Pekanbaru juga telah membina 701 kelompok UMKM atau klaster yang masing-masing beranggotakan sedikitnya delapan pelaku usaha. Artinya, lebih dari 5.000 pelaku UMKM di Riau telah merasakan manfaat pembinaan yang diberikan.

Di antara ribuan pelaku usaha tersebut, kisah Ibu Elis menjadi bukti bahwa usaha besar tidak selalu lahir dari tempat yang besar.

Dari teras rumah tipe 36, dari singkong yang dahulu hanya bernilai Rp1.500 per kilogram, dan dari kegagalan yang datang berulang kali, seorang ibu berhasil membangun jalan bagi keluarganya untuk melangkah lebih jauh.

Kini, setiap bungkus Kripik Singkong Aira yang meninggalkan rumah itu membawa lebih dari sekadar rasa pedas dan renyah. Di dalamnya tersimpan cerita tentang ketekunan, harapan, dan mimpi yang terus tumbuh dari rumah sederhana di sudut Kota Pekanbaru hingga menembus pasar dunia.***