RAKYAT45.COM – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas mulai Rabu, 23 September 2026. Kebijakan ini diambil setelah kondisi kualitas udara di Pekanbaru mulai membaik, meski dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian.
Sebelumnya, peserta didik tingkat PAUD hingga SMP mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring sejak awal pekan ini. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap kualitas udara yang berada dalam kategori tidak sehat akibat asap karhutla.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, keputusan untuk kembali menggelar PTM dilakukan setelah Pemko mengevaluasi kondisi udara bersama BMKG, Dinas Kesehatan, dan pihak terkait lainnya. Hasil evaluasi menunjukkan kondisi udara mulai membaik sehingga kegiatan belajar di sekolah dapat kembali dilakukan secara terbatas.
“Alhamdulillah, berdasarkan evaluasi BMKG, dinas kesehatan dan pihak terkait tentang kondisi udara yang mulai membaik. Insyaallah mulai 23 September 2026 anak-anak PAUD hingga SMP kembali belajar tatap muka di sekolahnya,” kata Agung, Selasa (22/9/2026) sore.
Meski peserta didik kembali ke sekolah, Pemko Pekanbaru belum menerapkan PTM secara penuh. Pembelajaran tetap dilakukan secara terbatas sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap kondisi kualitas udara yang masih perlu dipantau.
Dalam pelaksanaannya, peserta didik diminta tetap menggunakan masker selama beraktivitas di sekolah. Kegiatan pembelajaran di luar ruangan juga diminta untuk dikurangi guna mengantisipasi dampak kualitas udara terhadap kesehatan anak.
“Jika sedang batuk, sesak nafas, atau kurang sehat jangan dipaksakan. Orangtua dapat berkoordinasi dengan pihak sekolah,” terang Agung.
Agung menegaskan kondisi kesehatan peserta didik menjadi perhatian utama selama pelaksanaan PTM terbatas. Karena itu, anak yang mengalami gangguan kesehatan tidak perlu dipaksakan hadir mengikuti pembelajaran di sekolah.
Pemko Pekanbaru juga menyampaikan apresiasi kepada guru dan orangtua yang telah mendampingi peserta didik selama pembelajaran daring berlangsung. Dukungan tersebut dinilai membantu proses belajar anak tetap berjalan ketika kegiatan tatap muka belum dapat dilaksanakan.
“Terima kasih kepada para guru dan orangtua yang sudah mendampingi anak-anak selama pembelajaran daring,” ujarnya.***












