Rakyat45.com, Sleman – Peralihan musim bukan sekadar perubahan cuaca. Bagi Kabupaten Sleman, meningkatnya curah hujan membawa sejumlah risiko yang harus diantisipasi sejak dini, mulai dari banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang hingga ancaman penyakit menular. Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat langkah mitigasi dengan melibatkan berbagai perangkat daerah dan masyarakat.
Kesiapan lintas sektor itu menjadi pembahasan utama dalam Jumpa Pers bertema “Sleman Siaga Menghadapi Peralihan Musim” yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (5/11/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, serta Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman. Masing-masing instansi memaparkan langkah antisipasi berdasarkan potensi risiko di bidangnya.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., menjelaskan bahwa wilayah Sleman mulai memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan atau pancaroba. Berdasarkan informasi prakiraan cuaca, musim hujan diperkirakan berlangsung hingga sekitar April, sedangkan puncak curah hujan diprediksi terjadi pada Februari.
Ia mengingatkan bahwa perubahan cuaca perlu disikapi secara serius karena dapat memicu bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, tanah longsor, angin kencang, dan pohon tumbang.
Untuk mengurangi risiko tersebut, BPBD mendorong masyarakat membangun kesiapsiagaan mulai dari tingkat keluarga, RT, hingga RW. Upaya yang perlu dilakukan antara lain memetakan kawasan rawan bencana, menyiapkan kebutuhan darurat, mengenali kelompok rentan, mengaktifkan sistem peringatan dini, serta memastikan pohon dan saluran air di lingkungan masing-masing tidak membahayakan.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Setiap potensi maupun kejadian bencana perlu segera dilaporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan tanpa menunggu dampak semakin meluas.
Ancaman musim hujan juga menjadi perhatian serius dari sektor kesehatan. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati, M.M.R., mengingatkan masyarakat terhadap potensi peningkatan leptospirosis dan demam berdarah dengue (DBD).
Data yang disampaikan dalam jumpa pers mencatat sebanyak 112 kasus leptospirosis telah terdiagnosis, dengan dua penderita meninggal dunia. Angka tersebut menjadi peringatan agar masyarakat tidak mengabaikan risiko penularan penyakit, terutama ketika aktivitas sehari-hari bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar.
Leptospirosis merupakan penyakit akibat infeksi bakteri yang dapat menular melalui urine tikus. Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka atau bagian kulit yang mengalami kerusakan.
Karena itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan genangan air yang berpotensi tercemar, serta menggunakan pelindung ketika beraktivitas di kawasan berisiko.
Selain leptospirosis, pencegahan DBD juga harus menjadi perhatian keluarga. Dinas Kesehatan mendorong penerapan gerakan 3M Plus, pemberantasan sarang nyamuk, dan program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Langkah ini diperlukan untuk memutus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular virus dengue.
Drainase, Jalan, dan Jaringan Pengairan Diperhatikan
Kesiapan menghadapi curah hujan tinggi tidak terlepas dari kondisi infrastruktur. Dinas Lingkungan Hidup Sleman mengingatkan warga agar tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran drainase. Tumpukan sampah dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Sementara itu, DPUPKP Sleman melalui Bidang Bina Marga terus melakukan pemeliharaan jalan, pembersihan bahu jalan, serta penanganan kerusakan infrastruktur untuk menjaga keselamatan pengguna jalan. Masyarakat juga diminta melaporkan jalan rusak atau fasilitas yang berpotensi membahayakan agar dapat segera ditindaklanjuti.
Pada bidang Cipta Karya, perhatian diarahkan pada pemeliharaan drainase dan koordinasi pemasangan jaringan utilitas, seperti pipa serta kabel, agar tidak menghambat aliran air. Adapun Bidang Sumber Daya Air terus memperhatikan kesiapan dan fungsi jaringan pengairan untuk mengantisipasi peningkatan debit air selama musim hujan.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa menghadapi musim hujan membutuhkan kesiapan yang terintegrasi, mulai dari penanganan risiko bencana hingga perlindungan kesehatan dan pemeliharaan fasilitas umum.
Pemkab Sleman berharap koordinasi antara perangkat daerah, relawan, komunitas, dan masyarakat semakin kuat sehingga setiap potensi ancaman dapat diantisipasi lebih awal.
Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pemerintah. Kepedulian warga dalam menjaga lingkungan, mengenali risiko di sekitarnya, dan mengikuti informasi peringatan dini menjadi bagian penting dalam melindungi keselamatan bersama.
Dengan kesiapan dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, Kabupaten Sleman diharapkan mampu menghadapi musim hujan dengan risiko bencana dan dampak kesehatan yang lebih terkendali.**












