Perjuangan Bunda Reog membangun usaha rengginang hingga memberdayakan ibu-ibu di Pekanbaru.
RAKYAT45.COM – Suara letupan minyak panas bersahutan dari sebuah dapur sederhana di Jalan Mahang Nomor 11, Kelurahan Pematang Kapau, Kecamatan Kulim, Pekanbaru. Aroma harum ketan yang digoreng memenuhi ruangan, berpadu dengan hangatnya api kayu yang masih setia menjadi sumber panas utama.
Di sudut dapur itu, tangan Eva Susanti bergerak tanpa ragu. Dengan cekatan, perempuan berusia 48 tahun tersebut memasukkan rengginang setengah matang ke dalam wajan berisi minyak panas. Menggunakan serokan, ia menekan sebentar adonan ketan sebelum rengginang itu perlahan mengembang. Ketika warnanya mulai berubah keemasan, Eva segera mengangkatnya dan meniriskan hasil gorengan yang renyah itu.
Begitulah rutinitas yang dijalani Eva setiap hari sebagai salah seorang pekerja di Bunda Reog Pekanbaru, produsen rengginang khas Ponorogo yang hingga kini masih mempertahankan proses produksi secara manual menggunakan kayu bakar.
Bagi Eva, pekerjaan itu bukan sekadar menggoreng rengginang. Ada harapan yang ikut dipertaruhkan di balik setiap wajan yang mengepul.
Sejak bergabung pada 2023, ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Suaminya hanya bekerja serabutan sehingga penghasilan tambahan menjadi penopang penting bagi kebutuhan rumah tangga mereka.
Eva pun tidak sendiri. Di rumah produksi itu, beberapa ibu lainnya turut sibuk menjalankan peran masing-masing. Ada yang mencetak adonan, menjemurnya di bawah sinar matahari, hingga mengemas rengginang yang siap dipasarkan. Seluruhnya merupakan warga yang tinggal di sekitar rumah produksi.
Di balik aktivitas para perempuan itu berdiri sosok Titik Insuwarti, perempuan yang memulai semuanya dari sebuah usaha rumahan pada 2009.
Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa rengginang buatannya suatu hari akan hadir di sekitar 350 toko yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
Kini, setiap hari sekitar 25 hingga 30 kilogram beras ketan diolah menjadi sekitar 112 bungkus rengginang yang dijual seharga Rp15 ribu per bungkus.
Menjelang Lebaran Idulfitri, suasana di rumah produksi berubah semakin sibuk. Permintaan meningkat tajam sehingga jumlah pekerja pun harus ditambah.
“Kalau dekat Lebaran gini permintaan bisa naik hingga 50 persen. Jadi harus tambah tenaga kerja lagi,” ujar Titik kepada Rakyat45.com, Senin 26 Juni 2026.
Bagi perempuan berusia 50 tahun itu, pencapaian hari ini bukanlah hasil yang datang dalam semalam.
Ia masih mengingat masa-masa ketika rengginang buatannya sulit diterima pasar. Banyak toko menolak menitipkan produknya, bahkan tak sedikit rengginang yang tidak laku.
Namun, setiap kali menghadapi kegagalan, Titik selalu teringat pesan orang tuanya yang terus menjadi pegangan hidup.
“Setiap mendapat hambatan atau kendala, saya selalu ingat pesan orang tua agar jangan gampang menyerah. Kegagalan bukan harus kita takuti, tapi proses untuk menjadi kuat. Jangan takut apa pun. Kalau tak laku, anggap saja buang sial,” kenangnya.
Pesan sederhana itu menjelma menjadi kekuatan yang membuatnya terus melangkah.
Perlahan tetapi pasti, usaha yang dahulu dirintis dari dapur rumah berkembang menjadi UMKM yang produknya kini telah menjangkau 10 kabupaten dan kota di Riau. Rengginang dengan varian rasa bawang, gurih manis, ebi, dan terasi mampu menghasilkan omzet antara Rp30 juta hingga Rp40 juta setiap bulan.
Keunggulan rasa menjadi alasan utama pelanggan tetap setia. Menggunakan resep keluarga, rengginang Bunda Reog dikenal memiliki cita rasa gurih yang meresap hingga ke bagian tengah, sekaligus menawarkan pilihan rasa yang beragam.
Meski rengginang bukan makanan khas Riau, peminatnya terus bertambah. Bahkan menurut Titik, banyak konsumennya di Kabupaten Bengkalis berasal dari kalangan masyarakat Tionghoa.
Di balik pertumbuhan usahanya, Titik juga mengakui peran pembiayaan usaha yang diterimanya.
Pada awal 2020, ia memperoleh Kredit Usaha Rakyat KUR BRI sebesar Rp50 juta untuk menambah modal. Seiring berkembangnya usaha, pada Juni 2024 ia kembali memperoleh KUR BRI Unit Bukit Barisan senilai Rp150 juta.
“Mudah-mudahan dengan bantuan KUR dari BRI, usaha kami dapat lebih sukses lagi. Semoga BRI juga membantu lebih banyak lagi UMKM agar bisa berkembang,” katanya.
Dukungan pembiayaan bagi UMKM memang terus diperkuat. Sepanjang 2025, BRI Regional Office Pekanbaru menyalurkan KUR senilai Rp5,26 triliun kepada pelaku UMKM di Provinsi Riau.
Sebanyak Rp3,72 triliun atau 70,72 persen disalurkan ke sektor pertanian, sedangkan sektor perdagangan menerima Rp1,02 triliun atau 19,39 persen dari total penyaluran.
Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, menjelaskan bahwa dominasi penyaluran ke sektor pertanian sejalan dengan struktur ekonomi Riau yang ditopang oleh perkebunan, hortikultura, peternakan, dan berbagai usaha tani lainnya.
Meski demikian, dalam penyaluran KUR masih terdapat sejumlah tantangan. Di antaranya riwayat kredit atau SLIK OJK yang kurang baik, usaha yang belum beroperasi minimal enam bulan, persyaratan administrasi seperti NPWP yang belum lengkap bagi pengajuan di atas Rp50 juta, pasangan debitur yang masih memiliki pinjaman komersial, hingga batas maksimal eksposur KUR Mikro sebesar Rp500 juta.
Di sisi lain, dampak program tersebut mulai terlihat. Sepanjang 2025, sebanyak 5.578 debitur berhasil naik kelas dari segmen mikro ke jenjang usaha yang lebih tinggi. Hingga Mei 2026, jumlah debitur yang graduasi kembali bertambah menjadi 1.037 orang.
Pertumbuhan itu berjalan seiring dengan membaiknya perekonomian daerah. Pada Triwulan I 2026, perekonomian Provinsi Riau tumbuh 4,89 persen secara tahunan. Kredit UMKM, khususnya segmen mikro, juga meningkat 8,33 persen secara tahunan. UMKM sendiri menyumbang 34,7 persen terhadap total kredit usaha di Riau, sementara BRI berkontribusi sebesar 57,2 persen dalam penyaluran kredit UMKM tersebut.
Bagi Titik, semua angka itu tetap bermuara pada satu hal yang paling sederhana, yakni keberanian untuk terus mencoba.
“Tidak ada yang mudah. Tapi alhamdulillah saya selalu ingat pesan orang tua, dalam usaha jangan takut tidak laku. Terpenting tidak mudah menyerah, kalau jatuh, bangkit lagi. Seperti sekarang saya bersyukur bisa berwirausaha. Bisa buka lapangan kerja dan membantu daerah, alhamdulillah,” ujarnya.
Di rumah produksi sederhana itu, suara letupan rengginang masih terus terdengar. Di balik setiap keping rengginang yang renyah, tersimpan kisah perempuan-perempuan yang bekerja dengan tangan penuh harapan. Bukan hanya tentang menghasilkan camilan, tetapi juga tentang menjaga mimpi tetap hidup, membuka pintu rezeki bagi sesama, dan membuktikan bahwa ketekunan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.***













