RAKYAT45.COM – Gerimis tipis membasahi kawasan Gelanggang Remaja di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 6, Sidomulyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru. Meski cuaca kurang bersahabat, pengunjung tetap silih berganti mendatangi stand Koi Eskrim. Di sela kesibukan melayani pembeli, suara notifikasi WhatsApp berulang kali terdengar dari telepon genggam sang pemilik. Setiap bunyi yang muncul bukan sekadar pesan masuk, melainkan penanda bahwa satu transaksi kembali berhasil dilakukan.
Pelanggan kini tak lagi banyak mengeluarkan uang tunai. Mereka cukup mengarahkan kamera ponsel ke kode QR, pembayaran selesai dalam hitungan detik, dan notifikasi langsung masuk ke WhatsApp.
Bagi banyak orang, hal itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Fitri Yani pemilik Koi Eskrim, notifikasi tersebut menghadirkan rasa tenang saat menjalankan usaha yang dibangun dengan kerja keras selama hampir empat tahun.
“Selama saya jualan, sebelumnya saya menggunakan QRIS dari bank lain. Setelah memakai QRIS BRI, setiap ada transaksi langsung masuk notifikasi ke WhatsApp. Itu yang saya suka. Kalau yang lain biasanya hanya notifikasi biasa, kadang tidak terlihat. Kalau QRIS BRI, notifikasinya masuk ke WhatsApp sehingga lebih mudah kami lacak,” tuturnya.
Kemudahan itulah yang membuatnya mantap beralih menggunakan QRIS BRI.
“Makanya sejak memakai QRIS BRI saya merasa lebih nyaman. Selama ini saya memang sudah menjadi nasabah BRI, hanya saja QRIS BRI baru saya gunakan hari ini.”
Perubahan cara pembayaran pelanggan pun sangat terasa.
“Hampir semua pelanggan sekarang menggunakan QRIS untuk pembayaran.”
Jauh sebelum Koi Eskrim dikenal pelanggan, perjalanan usaha itu dimulai dari gerobak sederhana yang menjual jus di Jalan Pemuda, Jalan Riau.
Selama sekitar 15 tahun ia mengandalkan usaha tersebut untuk mencari nafkah. Kini, usaha jus hanya dibuka ketika Ramadan karena seluruh tenaga difokuskan mengembangkan Koi Eskrim.
Usaha es krim itu lahir dari keberanian membaca perubahan pasar.
Awalnya ia hanya menjual minuman es krim. Ketika tren kopi mulai digemari masyarakat, ia mencoba memadukan keduanya dengan menghadirkan es krim bertopping kopi. Konsep usaha pun terus disesuaikan hingga menggunakan model stand modern agar tetap relevan dengan perkembangan pasar.
Nama Koi Eskrim ternyata juga menyimpan cerita sederhana.
“Itu sebenarnya nama adik saya. Tapi kebetulan nama ‘Koi’ juga identik dengan ikan koi yang memiliki makna baik.”
Cabang pertama dibuka di kawasan Rauh-Rauh. Tiga tahun berselang, usaha berkembang hingga memiliki empat cabang, yakni di Rauh-Rauh, Riau Garden, Ramayana, dan Plaza Citra.
Namun perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus.
Ketika kawasan Rauh-Rauh ditutup, salah satu cabang terpaksa berhenti beroperasi. Kini Koi Eskrim bertahan dengan tiga stand.
“Alhamdulillah, usaha terus berkembang.”
Meski demikian, tantangan lain datang setelah Ramadan dan Lebaran ketika daya beli masyarakat menurun.
“Namanya usaha pasti ada pasang surut. Setelah Lebaran, penjualan di semua cabang, baik Riau Garden, Ramayana, maupun Plaza Citra, mengalami penurunan. Bukan hanya usaha saya, hampir semua jenis usaha juga mengalami kondisi yang sama.”
Ia mengetahui kondisi tersebut karena selalu mencatat pembukuan setiap cabang. Dari laporan itu terlihat jelas bagaimana omzet berubah setiap bulan.
Saat ini omzet kotor dari tiga stand mencapai sekitar Rp18 juta per bulan sebelum dipotong gaji karyawan. Sebelum Ramadan, satu stand bahkan mampu menghasilkan sekitar Rp15 juta setiap bulan.
Perjalanan hampir empat tahun itu perlahan mengubah kehidupan keluarganya.












