Rakyat45.com, Jakarta – Harga CPO atau minyak sawit mentah kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penurunan dipicu tingginya persediaan di Indonesia dan Malaysia di tengah permintaan global yang belum pulih, ditambah tekanan dari pelemahan harga minyak nabati pesaing.
Kontrak acuan CPO pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives tercatat turun 0,67 persen menjadi 4.570 ringgit per ton pada jeda perdagangan siang.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan kondisi pasar saat ini masih dibayangi tingginya pasokan dari dua produsen utama dunia, sementara permintaan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Penundaan penerbitan alokasi mandat biodiesel B50 di Indonesia serta kebijakan anti-deforestasi Uni Eropa (EUDR) turut menekan harga minyak sawit,” ujar Anilkumar Bagani, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, produksi minyak sawit masih berada pada level tinggi sehingga memperbesar tekanan terhadap harga di pasar internasional.
Data menunjukkan persediaan minyak sawit Indonesia melonjak 18,9 persen secara bulanan pada Mei setelah ekspor mengalami penurunan. Sementara itu, stok minyak sawit Malaysia meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan pada Juni, seiring pemulihan produksi yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan.
Seorang pelaku perdagangan di Kuala Lumpur menilai kontrak berjangka CPO masih bergerak dalam kisaran terbatas. Pasar diperkirakan baru akan pulih apabila permintaan meningkat dan laju produksi mulai melambat.
Di tengah tekanan tersebut, ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-15 Juli justru diperkirakan meningkat antara 4 persen hingga 12,4 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya, berdasarkan data Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia.
Sentimen negatif juga datang dari pasar minyak nabati global. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,38 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,88 persen. Di Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga terkoreksi 0,18 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati lain karena seluruh komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar global.
Di sisi lain, Malaysia menetapkan harga referensi CPO untuk Agustus pada level yang mempertahankan bea keluar ekspor sebesar 10 persen, sesuai surat edaran yang diterbitkan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).***












