Banner Website
Peristiwa

Karhutla Riau Melonjak 17 Kali Lipat, Bengkalis Sumbang Lebih Separuh Luas Kebakaran

20
×

Karhutla Riau Melonjak 17 Kali Lipat, Bengkalis Sumbang Lebih Separuh Luas Kebakaran

Sebarkan artikel ini
Karhutla Riau Melonjak 17 Kali Lipat, Bengkalis Sumbang Lebih Separuh Luas Kebakaran
Lonjakan karhutla Riau pada semester pertama 2026 bukan sekadar kenaikan angka. Di balik data seluas 15.477,9 hektare. (R45/Mcr)

Rakyat45.com, Pekanbaru – Lonjakan karhutla Riau pada semester pertama 2026 bukan sekadar kenaikan angka. Di balik data seluas 15.477,9 hektare, tersimpan fakta bahwa lebih dari separuh kebakaran terkonsentrasi di satu daerah, yakni Kabupaten Bengkalis. Kondisi ini menunjukkan titik rawan karhutla di Riau kembali mengarah ke kawasan gambut pesisir yang selama ini menjadi langganan kebakaran.

Berdasarkan analisis data citra satelit Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH), luas karhutla Riau sepanjang 1 Januari–30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 92 persen atau 14.277,3 hektare merupakan lahan gambut, sedangkan lahan mineral hanya 1.250,7 hektare.

Temuan itu mengindikasikan kebakaran masih didominasi kawasan gambut yang dikenal sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lonjakan tersebut sangat mencolok. Pada semester pertama 2025, luas karhutla di Riau hanya 907,8 hektare. Artinya, dalam setahun luas kebakaran meningkat hampir 17 kali lipat.

Lebih menarik lagi, investigasi ringan terhadap sebaran data menunjukkan Kabupaten Bengkalis menyumbang sekitar 53 persen dari total luas karhutla di Riau. Dari total 15.477,9 hektare, sebanyak 8.239,5 hektare berada di wilayah tersebut.

Angka itu jauh melampaui daerah lain, termasuk Pelalawan yang berada di posisi kedua dengan 4.582 hektare atau sekitar 30 persen dari total luas kebakaran. Jika digabung, Bengkalis dan Pelalawan menyumbang lebih dari 80 persen total karhutla di Provinsi Riau selama enam bulan pertama 2026.

Sementara kabupaten lainnya berada jauh di bawah dua daerah tersebut. Indragiri Hilir mencatat 956,6 hektare, Dumai 607,1 hektare, Rokan Hilir 289,6 hektare, Siak 281,1 hektare, dan Kepulauan Meranti 199,3 hektare.

Adapun Kuantan Singingi mencatat 103,1 hektare, Kampar 90,1 hektare, Indragiri Hulu 80,7 hektare, Rokan Hulu 40,5 hektare, sedangkan Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan kebakaran paling kecil, hanya 8,4 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut masih bersifat sementara dan disiapkan sebagai bahan evaluasi seluruh pihak.

“Hasil analisis citra satelit menunjukkan luas karhutla di Provinsi Riau periode 1 Januari sampai 30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare. Data ini kami sajikan secara head to head dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya agar menjadi bahan evaluasi bersama. Kembali lagi, ini bukan hanya masalah angka, tetapi harus menjadi perhatian dan pembelajaran penting agar semua pihak terus bahu-membahu mencegah karhutla dan merespons sedini mungkin apabila terjadi kebakaran di wilayahnya,” ujar Ferdian Krisnanto kepada Rakyat45.com, Jumat (17/7/2026).

Data historis juga memperlihatkan pola yang menarik. Luas karhutla semester pertama 2026 memang melampaui capaian lima tahun terakhir, termasuk 2020 yang tercatat 14.643,9 hektare. Namun, angka tersebut masih berada di bawah bencana asap besar 2019 yang mencapai 28.214,6 hektare.

Dominasi kebakaran di lahan gambut serta terkonsentrasinya kejadian di Bengkalis dan Pelalawan menjadi sinyal bahwa strategi pencegahan di wilayah-wilayah prioritas masih perlu diperkuat, terutama memasuki puncak musim kemarau.

Ferdian menegaskan, fokus utama bukan membandingkan besarnya angka dari tahun ke tahun, melainkan mempercepat langkah pencegahan.

“Yang terpenting bukan sekadar membandingkan besar kecilnya luasan kebakaran setiap tahun, tetapi bagaimana seluruh elemen dapat memperkuat patroli, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta merespons secepat mungkin apabila ditemukan titik api. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif agar karhutla tidak berkembang menjadi lebih luas,” tutupnya.***