Rakyat45.com, Yogyakarta – Pengukuhan guru besar STPKDY Yogyakarta membawa pesan lebih luas dari sekadar pencapaian akademik. Momentum tersebut menandai dorongan agar pendidikan tinggi keagamaan Kristen semakin mampu menjawab perubahan zaman sekaligus memperkuat kontribusi ilmu teologi bagi gereja dan bangsa.
Sidang Senat Terbuka berlangsung di Aula STT Kadesi, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). Sidang dipimpin Ketua Senat STT Kadesi, Prof. Dr. Kristian Sugiarto, Ph.D., dan menjadi rangkaian pengukuhan dua profesor di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen.
Pengukuhan dan penyematan Gordon Guru Besar dilakukan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd.K. Dengan bertambahnya dua profesor tersebut, jumlah guru besar di lingkungan Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen menjadi 20 orang.
Dua akademisi yang dikukuhkan yakni Pdt. Prof. Dr. Muner Daliman, MA., M.Pd.K., M.Th., D.Th., dari STT Kadesi Yogyakarta dalam bidang Teologi Perjanjian Baru, serta Prof. Dr. Harianto GP., D.Th., D.Ed., Ketua STT Exelsius Surabaya, dalam bidang Pendidikan Agama Kristen.
Muner Daliman mengangkat orasi ilmiah berjudul “Hamba Tuhan sebagai Manager Proaktif di Era Digital dan Tantangan Pandemi.” Gagasannya berangkat dari kebutuhan seorang hamba Tuhan untuk tidak sekadar menjalankan pelayanan, tetapi mampu membaca perubahan, mengambil inisiatif, dan mengelola tugas secara terarah.
Dalam orasinya, Muner menjelaskan bahwa pribadi proaktif memiliki kemampuan mengenali peluang, mengambil langkah, serta bertahan hingga menghasilkan perubahan positif. Kemampuan tersebut, menurut dia, relevan dengan peran hamba Allah sebagai juru bicara Allah sekaligus pengelola pelayanan.
Hamba Allah, lanjutnya, perlu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi tindakan untuk menjalankan tujuan Allah. Kerangka tersebut kemudian diarahkan pada model kepemimpinan proaktif yang mampu menggerakkan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Sementara itu, Harianto GP. melalui orasi ilmiah berjudul “Dari Panggilan ke Identitas Pelayanan Adaptif: Pengembangan Model QaraKles-Diakonia dalam Pembentukan Vokasi Teologis di Antara Mahasiswa Seminari Teologis” menyoroti proses pembentukan mahasiswa teologi.
Penelitiannya menegaskan bahwa formasi vokasi mahasiswa teologi tidak berhenti pada pengenalan panggilan. Proses tersebut berkembang melalui pembentukan identitas dan aktualisasi pelayanan dalam beragam konteks kehidupan.
Model QaraKles-Diakonia menggambarkan perjalanan tersebut melalui tiga tahap. Qara dipahami sebagai pengalaman awal panggilan yang dinamis; Klesis berkembang melalui pembentukan diri, komunitas pembelajaran teologi, dan praktik pelayanan; sedangkan Diakonia menjadi perwujudan pelayanan dalam tindakan yang kontekstual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa teologi datang dengan latar pendidikan yang beragam dan mengembangkan orientasi pelayanan yang tidak hanya berpusat pada pelayanan gerejawi penuh waktu. Pilihan pelayanan juga dapat berkembang melalui pola bivokasional maupun lintas sektor.
Ketua Yayasan Kadesi dalam sambutannya menekankan bahwa gelar profesor membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada pencapaian pribadi. Jabatan tersebut merupakan mandat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga integritas akademik, membimbing generasi penerus, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.
«”Guru besar bukan sekadar jabatan akademik. Guru besar adalah mandat, yang di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga integritas akademik, membimbing generasi penerus, serta memberikan kontribusi nyata bagi gereja, masyarakat. lingkungan Yayasan Kadesi, khususnya dalam lingkungan STPKDY Yogyakarta. Karena itu, pengukuhan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi pendidikan tinggi teologi di lingkungan STPKDY dan Indonesia.”»
Yayasan Kadesi berharap pengukuhan tersebut tidak dipandang sebagai garis akhir perjalanan akademik. Sebaliknya, gelar profesor diharapkan membuka tanggung jawab baru untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat pembinaan generasi muda, dan memperluas manfaat ilmu bagi masyarakat.
«”Melalui pengukuhan ini, ilmu semakin berkembang, generasi muda semakin diperlengkapi, gereja semakin dikuatkan, dan STPKDY semakin nyata menghadirkan kontribusinya bagi Indonesia,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.»
Seluruh civitas akademika STPKDY juga didorong menjadikan momentum tersebut sebagai energi untuk meningkatkan standar akademik, memperkokoh integritas, dan memperluas kontribusi lembaga. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sidang senat terbuka, termasuk pembacaan dokumen dan keputusan terkait kenaikan jabatan akademik dosen sesuai ketentuan yang berlaku.**












