Sleman, Rakyat45.com – Pukul satu dini hari. Saat sebagian besar warga masih terlelap, Pasar Godean sudah bernafas. Lampu-lampu bohlam menggantung redup di antara tenda-tenda kain, menyinari wajah-wajah letih yang setia melawan kantuk.
Suara langkah kaki bersahutan, tawa lirih sesekali pecah, berpadu dengan aroma jajanan pasar yang baru matang pertanda kehidupan mulai menggeliat, bahkan sebelum langit menampakkan semburat fajar.
Di tengah riuh yang tumbuh dari gelap, lapak Pak Giatno menjadi pusat perhatian. Pedagang asal Magelang itu telah dua belas tahun menempati sudut kecil pasar ini, membuka dagangannya sejak tengah malam hingga matahari tinggi. Meja kayunya sederhana, namun di sanalah para tengkulak menggantungkan harapan akan rezeki hari itu.
āJam dua sampai jam empat itu paling ramai,ā ujarnya sambil menata baki berisi jajanan. āTengkulak dari Godean, Kulon Progo, sampai desa-desa jauh sudah borong. Setelah itu baru pembeli umum datang. Kadang ramai, kadang sepi tapi ya begini hidup di pasar.ā
Deretan bakso bungkus kecil dan besar Rp 5.000, agar-agar tahu asin Rp5.000, hingga aneka jajanan serba Rp5.000 tersusun rapi di atas meja kayu. Setiap potong makanan seolah menyimpan kisah tentang ketekunan tangan-tangan ibu rumah tangga yang bangun sebelum azan, mengaduk adonan dalam senyap, lalu menjajakan hasilnya dengan senyum hangat kepada pembeli pertama pagi itu.
Tak jauh dari sana, Bu Agus sibuk melayani antrean di warung criping telo pedas miliknya. Bau gurih pedas membumbung di udara, memancing selera siapa pun yang lewat.
Sementara di jalur utama pasar, pedagang tape manis dan bakmi bungkus melayani para tengkulak yang datang dari Godean hingga Magelang, semuanya mencari rasa yang akrab, yang mengingatkan pada rumah.
Menjelang pukul lima, pasar mulai berganti wajah. Para pedagang sayur, warung kelontong, dan penjual sembako membuka lapak, menggantikan hiruk-pikuk dini hari dengan kesibukan warga yang berbelanja kebutuhan harian.
Aktivitas ini terus berlangsung hingga sore, menjadikan Pasar Godean bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang sosial yang menghidupkan ekonomi rakyat dari akar paling sederhana.
Dikenal aman dan tertib, pasar ini dijaga petugas keamanan selama 24 jam. Mereka menjaga ketenangan dengan sikap ramah yang menjadi ciri khas pasar tradisional Jawa. āKalau pasar tenang, rezeki lancar,ā ujar seorang satpam sambil tersenyum kepada Rakyat45.com, Selasa (11/11/2025).
“Di antara suara tawar-menawar dan aroma jajanan lima ribuan, Pasar Godean memantulkan denyut kehidupan yang nyaris puitis tempat di mana setiap lembar uang kecil menjadi simbol kerja keras, dan setiap tawa menjadi tanda harapan. Sebelum fajar benar-benar terbit, di sini, ekonomi rakyat sudah lebih dulu menyala.” pungkasnya lagi.**












