Banner Website
Ekbis

Kesabaran Ditanam Dalam Setiap Helai Benang untuk Menjaga Tenun Melayu Terus Bernafas

25
×

Kesabaran Ditanam Dalam Setiap Helai Benang untuk Menjaga Tenun Melayu Terus Bernafas

Sebarkan artikel ini
Kesabaran Ditanam Dalam Setiap Helai Benang untuk Menjaga Tenun Melayu
Tengku Syarifah Afifah Safni, Anak kedua dari Tengku Syarifah Nurila Zahara (Pemilik UMKM Tekat Tiga Dara). R45/MD

RAKYAT45.COM – Suara gesekan benang terdengar lirih dari sebuah rumah sederhana di Jalan Dahlia, Gang Jati Nomor 5, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru.

Siang itu, Jumat 24 April 2026, udara terasa hangat ketika jari-jemari perempuan muda bergerak perlahan di atas alat tenun kayu. Benang demi benang disusun hati-hati, membentuk motif Melayu Riau yang anggun dan sarat makna.

Di ruangan itu, Tengku Syarifah Afifah Safni, wanita muda itu, duduk tekun di depan alat tenun. Tatapannya tak lepas dari susunan benang yang harus tetap sejajar. Sedikit saja meleset, pola yang sedang dirangkai bisa berubah.

Bagi Afifah, menenun bukan sekadar pekerjaan tangan, tetapi ada kesabaran panjang yang ikut ditanamkan dalam setiap helai kain.

“Dari benang-benang kecil lahir tenunan yang indah. Semua perlu ketelitian dan kesabaran,” ucap Afifah pelan.

Anak kedua dari Tengku Syarifah Nurila Zahara itu mengatakan, bagian paling sulit dalam menenun terletak pada proses mengisi motif dan menentukan penggunaan benang emas atau perak. Semua harus dikerjakan dengan teliti agar hasil akhirnya tetap rapi dan memiliki nilai seni tinggi.

Di rumah sederhana itu pula, tradisi lama bertahan di tengah zaman yang terus bergerak cepat. Pada tahun 2006, Tengku Syarifah Nurila Zahara mulai merintis usaha kecil di samping rumahnya.

Kala itu, ibu tiga anak tersebut hanya membuat kerajinan tangan bersama beberapa warga sekitar. Tidak ada modal besar ataupun tempat usaha mewah. Yang ia miliki hanyalah kecintaan pada budaya Melayu Riau serta keinginan menjaga tenun tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.

“Saya memang senang dengan kerajinan tangan. Dulu semuanya dimulai dari usaha kecil di samping rumah,” kenangnya.

Waktu terus berjalan. Usaha sederhana itu perlahan tumbuh menjadi sentra kerajinan khas Riau bernama Tekat Tiga Dara. Hingga kini, tenun Melayu tetap menjadi identitas yang terus mereka pertahankan.

Di tengah maraknya kain printing dan produksi serba instan, Tekat Tiga Dara memilih tetap setia pada proses tradisional. Setiap lembar kain dikerjakan dengan tangan, menghadirkan ketelitian dan sentuhan yang tidak mampu digantikan mesin.

“Setiap lembar kain dikerjakan sepenuhnya dengan tangan. Tidak ada proses printing, karena kami ingin menjaga nilai dan sentuhan asli dari setiap tenunan,” ujar Syarifah.

Bagi perempuan itu, mempertahankan tenun bukan semata soal usaha. Ada tanggung jawab budaya yang ingin terus dijaga agar wastra Melayu tidak hanya dikenakan saat acara adat, lalu perlahan dilupakan generasi muda.

Keyakinan itu pula yang membuat Tekat Tiga Dara tumbuh bersama masyarakat sekitar. Jika dahulu hanya melibatkan dua atau tiga orang, kini ada 10 pekerja tetap yang menggantungkan hidup dari rumah produksi tersebut. Saat pesanan meningkat dari instansi pemerintah maupun perusahaan, jumlah pekerja bisa bertambah hingga 20 orang dengan melibatkan pelajar dan warga sekitar.

Namun dari rumah itu, mereka belajar perlahan. Tangan-tangan yang awalnya asing dengan alat tenun mulai terbiasa menyusun benang, memahami motif, hingga menghasilkan kain bernilai tinggi. Sistem kerja berbasis hasil membuat para pengrajin semakin bersemangat karena pendapatan dan bonus disesuaikan dengan jumlah produksi.

“Ketika pesanan sedang banyak, para pengrajin juga ikut merasakan tambahan penghasilan melalui bonus yang diberikan,” katanya.

Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Syarifah pernah berada di masa sulit ketika kebutuhan bahan produksi meningkat sementara modal usaha terbatas. Produksi sempat tersendat karena bahan tenun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Titik balik datang pada 2022 ketika ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat atau KUR ke Bank Rakyat Indonesia sebanyak Rp 25 juta. Dari pinjaman Rp25 juta tersebut, kebutuhan bahan produksi mulai terpenuhi dan usaha perlahan kembali berkembang.

“Keberadaan KUR BRI sangat membantu usaha kami. Proses pengajuannya pun berjalan mudah dan tidak berbelit,” ujarnya.

Menurut Syarifah, dukungan itu bukan hanya soal tambahan modal. Ada keyakinan yang tumbuh bahwa usaha kecil berbasis budaya juga mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Regional CEO BRI Regional Office Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengatakan BRI terus berkomitmen memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di Riau dan Kepulauan Riau.
Menurutnya, penyaluran KUR tidak hanya berfokus pada jumlah kredit, tetapi juga memastikan pembiayaan tetap sehat dan tepat sasaran.

“Penyaluran KUR tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar kredit yang diberikan benar-benar sehat dan membantu pelaku usaha,” ujarnya.

Menjelang sore, suara alat tenun masih terdengar dari rumah di sudut Kota Pekanbaru itu. Benang-benang terus dirangkai perlahan menjadi kain yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan cerita tentang kesabaran, perjuangan, dan warisan budaya.

Di tangan para perempuan itulah, tenun Melayu Riau tetap bernapas, bertahan, dan terus hidup di tengah zaman yang terus berubah.***