RAKYAT45.COM – Deru kendaraan nyaris tak pernah berhenti di persimpangan Jalan Rajawali dan Jalan Durian, Sukajadi, Pekanbaru. Asap tipis dari minyak panas mengepul dari sebuah lapak sederhana di sudut lampu merah. Aroma pergedel jagung yang baru diangkat dari penggorengan bercampur dengan hiruk pikuk kota yang bergerak cepat sejak pagi.
Di tempat itulah Arif Gunawan menggantungkan hidupnya. Sekitar 2021, Lelaki asal Padang Panjang, Sumatera Barat itu sempat berada di titik paling membuatnya cemas. Pemilik kios tempatnya berjualan tiba-tiba meminta uang perpanjangan sewa sebesar Rp7 juta untuk satu tahun, padahal masa kontraknya masih tersisa empat bulan.
Tidak ada banyak waktu untuk berpikir. Jika uang itu tak segera dibayar, kios kecil yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya akan berpindah tangan. Sudah ada pedagang lain yang siap menempati lokasi strategis tersebut.
Arif memahami betul mengapa tempat itu diperebutkan. Letaknya tepat di persimpangan lampu merah yang ramai dilalui kendaraan. Orang datang dan pergi hampir tanpa jeda. Dari sanalah pelanggan Jasaki, nama usaha gorengannya, terus berdatangan.
Namun di tengah kepanikan memikirkan biaya sewa, tabungan yang dimiliki tak cukup untuk menyelamatkan usaha itu.
“Waktu itu rasanya bingung sekali. Kalau tidak diperpanjang, saya harus pindah. Padahal pelanggan sudah banyak di sini,” tuturnya saat ditemui Rakyat45.com, Selasa, (19/52026).
Harapan kemudian datang dari sosok yang tak disangka. Seorang pimpinan Bank BRI yang kerap membeli gorengannya menyarankan Arif mengajukan Kredit Usaha Rakyat atau KUR.
Bersama istrinya, Arif berjalan menuju kantor BRI yang jaraknya hanya sekitar 15 meter dari lapaknya. Kini, kantor tersebut telah berubah menjadi Gerai Sentra Layanan Ultra Mikro (SenyuM), layanan terpadu yang menghadirkan BRI, Pegadaian, dan PNM dalam satu tempat.
Setelah melalui proses pengajuan dan dinyatakan memenuhi syarat, Arif menerima pinjaman KUR sebesar Rp20 juta. Dengan cicilan sekitar Rp800 ribu per bulan, dana itu menjadi penyelamat bagi usaha kecilnya.
Uang tersebut dipakai untuk membayar sewa kios sekaligus menambah modal usaha. Arif mengaku benar-benar merasakan manfaat program itu. Baginya, bantuan modal bukan sekadar angka pinjaman, melainkan kesempatan untuk tetap bertahan.
“Program KUR dari BRI sangat membantu usaha saya. Saya bisa melunasi sewa lapak dan menambah modal dagang,” katanya.
Sejak saat itu, lapak Jasaki kembali hidup seperti biasa. Tangan Arif kembali sibuk menggoreng tahu, ubi, pisang, hingga pergedel jagung yang menjadi menu favorit pelanggan. Di sela suara minyak mendesis, pembeli datang silih berganti. Ada yang membeli untuk sarapan, ada pula yang sengaja mampir sepulang kerja.
Pergedel jagung menjadi menu andalan yang paling banyak dicari. Harganya hanya Rp5 ribu per tiga buah. Sementara pisang dijual Rp5 ribu untuk dua buah.
Setiap hari, Arif bisa menghabiskan 20 hingga 30 sisir pisang dan sekitar 200 lebih tahu. Dari usaha sederhana itu, omzet yang diperoleh berkisar ratusan ribu hingga mencapai Rp 1 juta per hari.
Bagi Arif, angka tersebut bukan sekadar hasil jualan. Ada tenaga, kesabaran, dan keyakinan yang ikut digoreng bersama adonan setiap hari.
Ia berharap usahanya terus berkembang dan tetap mendapat dukungan permodalan jika suatu saat membutuhkan tambahan modal lagi.
“Harapan saya, semoga BRI semakin maju dan terus konsisten membantu pelaku UMKM kecil seperti kami. Karena bagi pedagang kecil, dukungan modal seperti ini sangat berarti untuk mempertahankan usaha, menambah penghasilan, dan perlahan mengembangkan usaha agar bisa lebih besar ke depannya,” ujarnya.
Di sisi lain, BRI Region 2 Pekanbaru menegaskan penyaluran KUR tetap dilakukan secara selektif meski menjadi program subsidi pemerintah.
Hal itu disampaikan dalam acara Ramah Tamah dan Silaturahmi yang dihadiri Regional Business Support Head BRI Region 2 Pekanbaru Eda Febriyanti serta Regional Micro Banking Head BRI Region 2 Pekanbaru yang diwakili Micro Business Department Head Nugraha Ramadan pada Kamis, 7 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu dijelaskan bahwa pengajuan KUR tidak otomatis disetujui. Setiap calon penerima tetap melewati analisa kredit yang ketat, mulai dari pemeriksaan riwayat pinjaman, status tunggakan, hingga kemampuan membayar cicilan.
Usaha calon debitur juga wajib sudah berjalan minimal enam bulan dan diverifikasi langsung oleh petugas lapangan.
Nugraha Ramadan mengatakan petugas BRI turut melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha untuk memastikan kelayakan calon nasabah. Setelah itu, analisa dilakukan menyeluruh agar skema cicilan tetap sesuai dengan kemampuan usaha dan kebutuhan hidup nasabah.
Secara nasional, BRI mencatat penyaluran KUR sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp178 triliun kepada 3,8 juta debitur. Sementara pada 2026, alokasi penyaluran KUR BRI mencapai Rp180 triliun.
Sektor pertanian masih mendominasi penyaluran dengan porsi sekitar 45 persen, disusul perdagangan, industri, perikanan, dan sektor lainnya.
Khusus wilayah kerja BRI Region 2 Pekanbaru yang mencakup Riau Daratan hingga Kepulauan Riau, BRI memiliki lebih dari 200 outlet pelayanan, terdiri dari 22 kantor cabang dan 170 BRI Unit. Selain itu, terdapat lebih dari 800 tenaga pemasar mikro atau mantri yang menjangkau pelaku UMKM hingga daerah terpencil.
Sepanjang 2025, penyaluran KUR di Riau mencapai Rp6,2 triliun kepada sekitar 90 ribu debitur. Sementara di Kepulauan Riau mencapai Rp755 miliar kepada 14 ribu debitur.
Pada 2026, penyaluran KUR di Riau telah menyentuh sekitar Rp2,3 triliun hingga Rp2,4 triliun kepada 33 ribu debitur. Sedangkan di Kepulauan Riau mencapai Rp327 miliar.
Penyaluran di Riau masih didominasi sektor pertanian dan perkebunan sawit, sementara di Kepulauan Riau lebih banyak terserap sektor perdagangan.
Regional CEO BRI Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana menegaskan BRI terus mendukung penyaluran KUR di wilayah Riau dan Kepulauan Riau untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, prinsip kehati-hatian tetap dikedepankan agar kredit yang diberikan sehat dan tepat sasaran.
Sore mulai turun di persimpangan Jalan Rajawali dan Jalan Durian. Lampu merah kembali memadatkan antrean kendaraan. Di sudut jalan itu, Arif tetap berdiri di depan penggorengannya, melayani pembeli satu per satu.
Bagi sebagian orang, gorengan mungkin hanya makanan ringan pengganjal lapar. Namun bagi Arif, dari kepulan asap minyak panas itulah harapan keluarganya terus menyala.***












