RAKYAT45.COM – Menjelang sore, simpang Jalan Rajawali-Jalan Durian, Pekanbaru, mulai dipadati kendaraan. Asap tipis dari minyak panas mengepul dari sebuah gerobak sederhana di tepi jalan. Aroma gorengan yang baru diangkat dari penggorengan bercampur dengan hiruk pikuk kota yang belum benar-benar reda itu.
Di sisi kanan gerobak itu, sebuah stiker besar bertuliskan QRIS menempel mencolok. Pemandangan yang dulu terasa asing bagi pedagang kaki lima, kini perlahan menjadi hal biasa.

Gerobak gorengan milik Susi Ermina di Jasaki bukan hanya tempat orang membeli camilan hangat. Di sana, perubahan kecil tentang cara masyarakat bertransaksi sedang berlangsung.
Susi tak pernah membayangkan gerobak sederhananya akan melayani pembayaran digital. Semuanya bermula ketika dirinya mendapatkan program Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI. Saat itu, pihak bank menawarkan pembuatan QRIS untuk usahanya.
Tanpa banyak berpikir, ia langsung menerima tawaran tersebut. Menurutnya, semakin banyak orang kini terbiasa berbelanja tanpa uang tunai.
“Memang ada saja pelanggan yang bayar pakai QRIS. Lebih praktis, tinggal pindai barcode tanpa perlu membawa uang tunai,” ujar Susi saat ditemui Selasa, 19 Mei 2026.
Bagi Susi, QRIS bukan sekadar metode pembayaran baru. Sistem itu perlahan membantu usahanya menyesuaikan diri dengan kebiasaan pelanggan yang terus berubah.
Ia mulai mengenali pola para pembelinya. Pegawai kantoran yang membeli dalam jumlah banyak sering memilih pembayaran digital. Anak-anak sekolah juga tak sedikit yang menggunakan QRIS saat membeli gorengan sepulang belajar.
Sementara pelanggan yang lebih tua masih nyaman menggenggam uang tunai di tangan.
“Kalau yang sering pakai QRIS biasanya orang kantoran atau anak sekolah. Orang tua kebanyakan masih bayar tunai,” katanya sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, perubahan itu hadir bahkan di tempat-tempat yang paling sederhana. Bukan di pusat perbelanjaan besar atau restoran mewah, melainkan di sebuah gerobak gorengan pinggir jalan.
Bagi sebagian pelanggan, keberadaan QRIS menjadi penyelamat di situasi tertentu.
Aryanto, salah seorang pembeli, mengaku tidak banyak pedagang gorengan yang menyediakan pembayaran digital. Karena itu, ia merasa sistem tersebut sangat membantu.
Menurutnya, ada kalanya seseorang lupa mengambil uang tunai atau saldo dompet tidak cukup untuk berbelanja. Dalam kondisi seperti itu, QRIS menjadi solusi yang memudahkan.
“Bayarnya jadi lebih praktis. Tinggal pindai barcode. Kadang kita lupa tarik uang atau uang tunai tidak cukup, jadi pembayaran digital seperti ini sangat membantu. Yang penting ada aplikasi pembayaran di ponsel,” ujar Aryanto.
Di balik gerobak sederhana yang berdiri di sudut simpang itu, ada cerita tentang ketekunan mengikuti perubahan zaman. Susi mungkin hanya menjual gorengan, tetapi dari tangannya, teknologi perlahan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebab kini, bahkan membeli pergedel jagung hangat di pinggir jalan pun tak lagi harus dengan lembaran uang di tangan.***












