Daerah

BPBD Sleman Perkuat Mitigasi Hadapi Merapi, Kekeringan dan El Niño

×

BPBD Sleman Perkuat Mitigasi Hadapi Merapi, Kekeringan dan El Niño

Sebarkan artikel ini
Bambang Kuntoro, A.P.M.St. dari BPBD Sleman saat diwawancarai awak media, Selasa (8/9/2026)./R45/Agus.

Rakyat45.com, Sleman – Ancaman bencana di Sleman datang dengan karakter berbeda, tetapi berpotensi terjadi dalam waktu yang berdekatan. Aktivitas Gunung Merapi membutuhkan kesiapan evakuasi, sementara kondisi kering akibat El Niño meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air sekaligus risiko kebakaran lahan.

Situasi ini mendorong BPBD Sleman memperkuat mitigasi bencana dengan menyiapkan sistem peringatan, jalur evakuasi, hingga langkah menghadapi kekeringan.

Bambang Kuntoro, A.P.M.St. dari BPBD Sleman menyampaikan hal tersebut saat menemui awak media, Selasa (8/9/2026). Pertemuan berlangsung di lobi Bupati Sleman sekitar pukul 14.00 WIB.

Menurut Bambang, mitigasi menghadapi potensi bencana tidak hanya mengandalkan respons ketika keadaan darurat muncul. BPBD menjalankan pendekatan struktural melalui perbaikan dan pelebaran jalur evakuasi, penyediaan tempat pengungsian, serta penguatan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS).

Kawasan Merapi dan sekitarnya kini memiliki sekitar 37 sistem peringatan dini. Perangkat tersebut dilengkapi sirene, voice announcement, dan CCTV untuk membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat ketika kondisi membutuhkan tindakan cepat.

Kesiapan warga juga menjadi bagian penting dalam menghadapi skenario erupsi. BPBD memperkuat edukasi masyarakat, kapasitas relawan, kesiapan logistik, serta memperbarui skenario evakuasi. Sekitar 37 ribu warga tercatat sebagai sasaran utama dalam skenario evakuasi bencana Merapi.

Untuk memastikan proses tersebut berjalan efektif, BPBD turut meninjau kembali sejumlah nota kesepahaman (MoU). Kesiapan sekolah menjadi salah satu perhatian, terutama dalam memastikan evakuasi siswa dapat dilakukan secara cepat ketika situasi darurat terjadi.

Sementara ancaman erupsi membutuhkan kesiapan evakuasi, kondisi kering membawa persoalan lain berupa berkurangnya pasokan air. Bambang menyebut dropping air hanya menjadi solusi darurat sehingga diperlukan upaya yang lebih berkelanjutan.

“Kami mencari solusi yang lebih ideal, seperti mencari sumber mata air baru, pembangunan sumur dalam, perbaikan PAMSIMAS, serta penguatan jaringan distribusi air,” ujar Bambang.

Tekanan terhadap ketersediaan air terlihat dari kondisi mata air di wilayah Turi. Debit yang bersumber dari hulu Sungai Krasak mengalami penurunan hingga hampir dua pertiga. Perubahan tersebut berdampak terhadap pasokan air bagi masyarakat di wilayah bawah.

Kondisi vegetasi yang mengering akibat anomali cuaca El Niño kemudian menambah risiko lain, yakni kebakaran lahan. BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu api.

Rangkaian langkah itu menempatkan mitigasi sebagai upaya untuk mengurangi risiko sebelum bencana berkembang menjadi keadaan darurat. Kesiapan sistem peringatan, jalur evakuasi, relawan, logistik, sekolah, hingga pengelolaan sumber air menjadi bagian dari strategi BPBD Sleman dalam melindungi masyarakat dari ancaman yang berbeda dalam satu periode cuaca.**