Roti canai tersebut bukan lagi hidangan asing bagi masyarakat Pekanbaru. Cita rasanya telah lama melekat di lidah para pelanggan yang datang silih berganti, baik untuk menikmati sarapan, makan malam, maupun sekadar melepas rindu pada sajian khas yang telah menjadi bagian dari denyut kuliner kota.
Namun, kisah di balik tenda itu ternyata bukan sekadar tentang adonan, mentega, dan telur.
Di sudut lain tenda, seorang pria tampak sibuk merapikan lembaran menu yang telah dilaminasi. Dengan hati-hati ia melubangi plastik menggunakan pisau kecil sebelum menggantungnya di rangka atap tenda agar mudah terlihat pelanggan.
Pada lembar menu itu terpampang kode QRIS sebagai pilihan pembayaran non tunai. Meski terdapat kekeliruan penulisan nama bank yang tertulis Bank Republik Indonesia, semestinya Bank Rakyat Indonesia atau BRI, keberadaan QRIS tersebut menunjukkan bagaimana lapak sederhana itu telah beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di bawah kode pembayaran digital itu terdapat tulisan Roti Canai Ikhwan Pekanbaru. Sebuah kalimat lain membuat siapa pun berhenti sejenak untuk membaca.
Seluruh keuntungan dari penjualan roti canai tersebut disalurkan kepada Yayasan Al Anshar Pekanbaru yang lokasinya tak jauh dari tempat mereka berjualan.
Kalimat sederhana itu mengubah cara pandang terhadap setiap lembar roti canai yang terjual. Setiap pembelian ternyata ikut menjadi bagian dari perjalanan sosial yang lebih besar.
Pria yang sedari tadi sibuk menggantung menu itu ternyata bukan pegawai biasa. Ia adalah Fitril Akbar, pengelola Roti Canai Pekanbaru yang selama ini mengembangkan usaha tersebut bersama Yayasan Al Anshar.
Dengan senyum ramah, Akbar mulai menceritakan perjalanan panjang usaha yang telah dirintis hampir satu dekade.
“Usaha roti canai ini sudah berdiri sejak 2016. Dulu, namanya Roti Canai Ikhwan. Kini, namanya telah berubah menjadi Roti Canai Pekanbaru,” katanya.
Perubahan nama itu dilakukan ketika usaha mereka mulai mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan pemerintah daerah. Perlahan, usaha kecil tersebut tumbuh semakin dikenal hingga hadir di berbagai daerah seperti Papua, Makassar, Sentul Bogor, Bandung, Medan, Aceh, dan tentu saja Pekanbaru.
Bagi Akbar, perkembangan itu bukan sekadar soal bertambahnya cabang usaha. Lebih dari itu, setiap lapak yang berdiri menjadi ruang untuk memperkenalkan cita rasa sekaligus memperluas manfaat bagi yayasan yang menaunginya.












