Banner Website
Ekbis

Di Balik Harum Roti Canai, Ada Mimpi yang Terus Mengembang Bersama Sentuhan Digital

69
×

Di Balik Harum Roti Canai, Ada Mimpi yang Terus Mengembang Bersama Sentuhan Digital

Sebarkan artikel ini
Di Balik Harum Roti Canai, Ada Mimpi yang Terus Mengembang Bersama Sentuhan Digital
Karyawan Roti Canai dan Mie Goreng Mamak sedang menyiapkan adonan Roti Canai. (R45/Marianus)

Di balik setiap lembar roti canai yang berpindah ke tangan pelanggan, perubahan lain diam-diam ikut berlangsung. Bukan lagi soal resep ataupun ukuran adonan, melainkan cara masyarakat melakukan transaksi.

Seluruh karyawan Roti Canai Pekanbaru yang merupakan anggota Yayasan Al Anshar kini tercatat sebagai nasabah BRI. Sementara itu, Fitril Akbar sendiri telah menjadi nasabah BRI sejak 2021.

Akbar masih mengingat betul awal mula pembayaran digital hadir di lapaknya. Momen itu terjadi saat mereka mengikuti Bazar Ramadan di samping Kantor Gubernur Riau pada 2023.

Beberapa karyawan BRI datang menghampiri lapak mereka dan menawarkan bantuan untuk membuatkan QRIS bagi usaha tersebut.

“Kemudian, mereka membantu membuatkan QRIS BRI usaha kami,” ucap Akbar.

Saat itu, penggunaan QRIS belum begitu akrab di kawasan pinggiran tempat mereka berjualan. Pembayaran digital lebih sering dijumpai di pusat Kota Pekanbaru, sementara sebagian besar pelanggan di sekitar lapak masih mengandalkan uang tunai.

Seiring waktu, kebiasaan masyarakat mulai berubah.

Kalangan remaja menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi. Mereka datang bersama teman-teman, memesan roti canai, lalu cukup memindai kode QRIS tanpa perlu lagi mencari uang pas di dalam dompet.

Perubahan kecil itu perlahan membawa kemudahan bagi penjual maupun pembeli.

Setiap malam, lapak Roti Canai Pekanbaru hadir di samping Menara Dang Merdu, Jalan Ahmad Yani, salah satu kawasan kuliner yang selalu ramai dipadati masyarakat.

“Kami berjualan di samping Menara Dang Merdu, Jalan Ahmad Yani, setiap malam. Kawasan itu telah menjadi salah satu pusat kuliner yang ramai dikunjungi masyarakat pada malam hari,” jelas Akbar.

Tak hanya berjualan pada malam hari, tim Roti Canai Pekanbaru juga membuka lapak lain di luar area Car Free Day setiap Minggu pagi dengan karyawan yang berbeda.

Semakin banyak pelanggan yang memanfaatkan QRIS untuk menyelesaikan pembayaran hanya dalam hitungan detik. Meski demikian, uang tunai tetap memiliki tempat tersendiri.

“Namun, ada juga pelanggan yang datang berolahraga tanpa membawa telepon seluler atau ponsel. Biasanya, mereka membayar menggunakan uang tunai,” pungkas Akbar.

Bagi Roti Canai Pekanbaru, QRIS bukan sekadar alat pembayaran. Kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan usaha yang terus menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku masyarakat tanpa meninggalkan kedekatan yang selama ini terjalin dengan pelanggan.

Di balik setiap kode QRIS yang terpajang di sudut meja, tetap ada senyum hangat penjual, aroma roti canai yang baru matang, dan semangat untuk terus bertumbuh bersama perkembangan zaman. Tradisi dan teknologi akhirnya berjalan berdampingan, menghadirkan kemudahan tanpa menghilangkan kehangatan yang selama ini menjadi ciri khas usaha tersebut.

Di balik satu kali bunyi notifikasi pembayaran yang terdengar dari telepon genggam, sesungguhnya ada perubahan besar yang sedang berlangsung. Apa yang dialami Roti Canai Pekanbaru hanyalah satu potongan kecil dari transformasi digital yang kini menjangkau semakin banyak pelaku usaha hingga pelosok daerah.

Bagi pelanggan, memindai QRIS mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun bagi pelaku UMKM, perubahan itu berarti transaksi yang lebih praktis, pencatatan yang lebih rapi, sekaligus peluang untuk menjangkau lebih banyak konsumen yang mulai meninggalkan uang tunai.

Sementara itu, Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengatakan aplikasi BRImo kini menjadi pilar utama transformasi digital perseroan sekaligus layanan yang paling banyak dimanfaatkan nasabah.

Hingga akhir 2025, BRImo telah digunakan sekitar 45,9 juta pengguna di seluruh Indonesia. Sepanjang tahun yang sama, aplikasi tersebut memproses sekitar 5,6 miliar transaksi dengan nilai lebih dari Rp7.000 triliun. Pada periode itu pula sekitar 99,1 persen transaksi BRI telah dilakukan melalui kanal digital, sebuah gambaran bahwa masyarakat semakin memilih layanan perbankan yang cepat dan praktis dibandingkan datang langsung ke kantor cabang.

Dalam keseharian, BRImo tidak hanya digunakan untuk transfer dana. Nasabah juga memanfaatkannya untuk pembayaran menggunakan QRIS, top up e-wallet, membayar berbagai tagihan seperti listrik, air, internet, dan BPJS, membeli pulsa maupun paket data, melakukan tarik tunai tanpa kartu, hingga membuka rekening secara digital.

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, perubahan itu menghadirkan manfaat yang jauh lebih besar.

Layanan digital membuat akses terhadap perbankan tidak lagi bergantung pada keberadaan kantor cabang. Melalui BRImo maupun jaringan Agen BRILink, masyarakat kini dapat mengecek saldo, mentransfer dana, membayar tagihan, membeli kebutuhan digital, hingga mengelola rekening tanpa harus menghabiskan waktu dan biaya perjalanan.

Kemudahan serupa juga dirasakan para pelaku UMKM seperti Roti Canai Pekanbaru. Pembayaran melalui QRIS membuat transaksi berlangsung lebih cepat, sementara pencatatan transaksi dapat dipantau secara lebih mudah. Digitalisasi bahkan membuka peluang yang lebih luas bagi petani, nelayan, pedagang, maupun pelaku usaha kecil untuk mengakses layanan keuangan dan pembiayaan.

Transformasi tersebut turut memperluas inklusi keuangan. Masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan kini memiliki kesempatan membuka rekening, menyimpan dana dengan lebih aman, hingga menerima berbagai program pemerintah secara lebih cepat dan transparan melalui rekening masing-masing.

Kemudahan juga dirasakan oleh masyarakat yang bekerja di luar daerah. Pengiriman uang kepada keluarga kini dapat dilakukan secara instan tanpa harus menunggu lama maupun datang ke kantor layanan.

Meski demikian, digitalisasi bukan berarti tanpa tantangan.

Keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan jaringan internet, kepemilikan smartphone, tingkat literasi digital dan keuangan masyarakat, serta kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan siber yang terus berkembang.

Karena itu, keamanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap transaksi digital.

BRI terus memperkuat sistem keamanan melalui penerapan autentikasi berlapis, enkripsi data, pemantauan transaksi secara real time untuk mendeteksi potensi fraud, hingga perlindungan terhadap perangkat dan aplikasi yang digunakan nasabah.

Setiap transaksi juga disertai notifikasi secara real time sehingga nasabah dapat segera mengetahui apabila muncul aktivitas yang tidak dikenali.

Di saat yang sama, edukasi terus dilakukan agar masyarakat tidak pernah membagikan OTP, PIN maupun password kepada siapa pun, selalu waspada terhadap berbagai modus phishing melalui SMS, telepon, email maupun media sosial, serta hanya menggunakan aplikasi dan kanal resmi BRI.

Pengamanan tersebut juga diperluas ke seluruh ekosistem digital BRI, mulai dari Agen BRILink, ATM, internet banking hingga berbagai kanal pembayaran digital lainnya.

Nasabah pun diimbau ikut menjaga keamanan dengan mengaktifkan fitur biometrik, menggunakan PIN dan password yang kuat, memperbarui aplikasi secara berkala, tidak mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak resmi, serta segera menghubungi layanan resmi BRI apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan.

Pada akhirnya, keamanan transaksi digital bukan hanya menjadi tanggung jawab bank, tetapi juga setiap pengguna yang memanfaatkan layanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sepanjang 2025, pertumbuhan BRImo menunjukkan bahwa perubahan itu terus bergerak. Jumlah pengguna meningkat dari 38,61 juta pada 2024 menjadi 45,90 juta pengguna pada 2025 atau tumbuh 18,9 persen. Volume transaksi naik dari 4,34 miliar menjadi 5,60 miliar transaksi atau tumbuh 29 persen. Nilai transaksinya pun meningkat dari Rp5.596 triliun menjadi Rp7.057 triliun atau bertambah 26,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa bukan hanya jumlah pengguna yang bertambah, tetapi juga intensitas pemanfaatan layanan digital dalam aktivitas sehari-hari. Masyarakat semakin terbiasa menggunakan BRImo untuk mentransfer dana, membayar menggunakan QRIS, membeli pulsa, melakukan top up e-wallet hingga membayar berbagai kebutuhan rumah tangga.

Tren yang sama juga mulai terlihat di Riau. Adopsi layanan digital terus meningkat, baik di kalangan masyarakat maupun pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usaha mereka.

Untuk memastikan perubahan itu dapat dinikmati lebih banyak orang, BRI terus memperkuat edukasi literasi digital, terutama bagi masyarakat pedesaan, pelaku UMKM, dan mereka yang baru mengenal layanan perbankan digital.

Jaringan Agen BRILink yang tersebar hingga tingkat desa menjadi ujung tombak dalam memperkenalkan layanan digital kepada masyarakat. Para agen membantu nasabah mengaktifkan BRImo, melakukan transaksi digital, sekaligus memberikan pemahaman mengenai penggunaan layanan yang aman.

Pendampingan juga dilakukan langsung oleh petugas di kantor cabang dan unit kerja melalui demonstrasi penggunaan BRImo, transaksi QRIS, hingga edukasi mengenai keamanan akun.

Selain itu, berbagai program literasi keuangan dan digital rutin diselenggarakan untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, pemanfaatan layanan digital, keamanan transaksi daring, hingga optimalisasi pembayaran digital bagi pelaku usaha.

Edukasi diperluas melalui website resmi, media sosial, video tutorial, webinar, dan seminar daring agar informasi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Khusus bagi pelaku UMKM, pelatihan penggunaan QRIS, pencatatan transaksi elektronik, hingga pemanfaatan layanan perbankan terus dilakukan agar usaha kecil mampu tumbuh bersama perkembangan teknologi.

Di bawah tenda sederhana tempat aroma roti canai terus mengepul, perubahan itu sesungguhnya telah terlihat nyata. Sepiring roti canai yang dibayar melalui satu kali pindai QRIS menjadi simbol bahwa digitalisasi bukan lagi milik kota-kota besar semata. Ia telah hadir di tengah pelaku usaha kecil, menghubungkan tradisi, kepedulian sosial, dan kemajuan teknologi dalam satu cerita yang terus berkembang dari Pekanbaru untuk Indonesia.***

Di Balik Harum Roti Canai, Ada Mimpi yang Terus Mengembang Bersama Sentuhan Digital