Jajanan KAIS pernah mempekerjakan sekitar sembilan karyawan tetap. Kini jumlah itu berkurang karena berbagai alasan. Ada yang menikah, ada yang sakit, dan ada pula yang memilih pekerjaan lain.
Ketika event besar datang, keluarga dan teman-teman kembali menjadi bagian penting dari usaha tersebut. Jumlah tenaga yang membantu bisa mencapai 20 hingga 30 orang. Mereka berbagi peran mulai dari menyiapkan bahan, memasak, hingga melayani pembeli.
Sebelum dikenal sebagai pelaku usaha bazar, sang pemilik lebih dahulu berkecimpung dalam bisnis katering dan produksi kue. Ribuan kue pernah diproduksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan coffee break sejumlah hotel di Pekanbaru seperti Ibis, Aryaduta, dan Grand Zuri.
Pengalaman itu menjadi bekal berharga ketika harus mengelola produksi makanan dalam skala besar.
Seiring berkembangnya usaha, cara pelanggan bertransaksi pun ikut berubah.
Sebagai nasabah BRI sejak sekitar 2005, ia mulai memanfaatkan layanan pembayaran digital untuk mendukung operasional usahanya. Kini setiap stan memiliki QRIS masing-masing, termasuk QRIS BRI, karena dalam satu hari mereka bisa membuka beberapa titik penjualan sekaligus.
“Saat ini saya memiliki beberapa QRIS, termasuk QRIS BRI. Penambahan QRIS dilakukan karena dalam satu hari saya bisa membuka beberapa titik penjualan sekaligus sehingga setiap stan memiliki rekening penerimaan yang berbeda,” katanya.
Perubahan menuju transaksi digital tentu tidak selalu berjalan mulus.
Ia pernah mengalami transaksi pelanggan yang belum langsung tercatat masuk ke rekening saat mengikuti kegiatan di SMA 2 maupun Caprice Day.
“Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas BRI, dana tersebut sebenarnya berhasil diterima sistem, hanya saja terjadi keterlambatan masuk ke rekening. Pengalaman seperti ini membuat saya lebih berhati-hati dalam melakukan pengecekan transaksi setiap selesai berjualan,” ujarnya.
Pengalaman lain yang tidak kalah mengganggu datang ketika akun WhatsApp miliknya diretas. Sejak saat itu, ia semakin berhati-hati menggunakan layanan digital dan lebih teliti memeriksa setiap transaksi.
Perjalanan bersama BRI juga tidak hanya berhenti pada layanan pembayaran.
Sekitar 2006 hingga 2007, ia memperoleh Kredit Usaha Rakyat atau KUR BRI senilai sekitar Rp5 juta. Setelah pinjaman pertama lunas, fasilitas yang sama kembali dimanfaatkan untuk menambah modal usaha.
“Pinjaman tersebut sangat membantu saya dalam menambah modal usaha,” kenangnya.
Kini ia memilih mengelola keuangan secara lebih mandiri dan memanfaatkan pembiayaan sesuai kebutuhan usaha.













