Banner Website
Ragam

Snap Mor Biak, Tradisi Laut Leluhur yang Kini Mendunia

21
×

Snap Mor Biak, Tradisi Laut Leluhur yang Kini Mendunia

Sebarkan artikel ini
Snap Mor Biak, Tradisi Laut Leluhur yang Kini Mendunia
Festival Biak Munara Wampasi (FBMW). R45/Alfian

Rakyat45.com, Biak Nurfor โ€“ Snap Mor Biak kembali menjadi magnet wisata budaya sekaligus simbol pelestarian laut di Papua. Ribuan warga Kampung Mnurwar bersama wisatawan domestik maupun mancanegara turun ke pesisir saat air laut surut untuk mengikuti tradisi adat yang telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk syukur sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Tradisi yang menjadi bagian dari Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) itu resmi dibuka Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., di Kampung Mnurwar, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Dinas Pariwisata dalam memperkenalkan kearifan lokal ke tingkat internasional.

Dari pantauan Rakyat45.com, ribuan masyarakat adat Suku Biak berjalan beriringan memasuki kawasan laut yang sedang surut. Mereka membawa tombak dan jaring tradisional bukan sekadar untuk menangkap ikan, tetapi menjalankan warisan budaya yang mengajarkan manusia hidup selaras dengan alam.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Biak Numfor Ny. Imelda Maria Wospakrik Mansnembra, Plt Sekda Biak Numfor Zacharias L. Mailoa, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Simon Rumpaisum, Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor Turbey Onny Dangeubun, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta unsur Forkopimda.

Pengamanan kegiatan dilakukan Kapolsek Biak Timur Ipda Mervin S.M. Rumpaidus bersama personel Polres Biak Numfor sehingga seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan tertib.

Bagi masyarakat Biak, Snap Mor bukan sekadar tradisi menangkap ikan secara bersama-sama. Tradisi ini merupakan sistem pengelolaan sumber daya laut yang telah dipraktikkan selama ratusan tahun.

Dalam bahasa Biak, snap berarti menebar jaring panjang, sedangkan mor bermakna tumpukan hasil laut yang melimpah. Filosofi tersebut menggambarkan keyakinan masyarakat bahwa kelimpahan hasil laut hanya dapat dinikmati apabila alam dijaga secara bersama-sama.

Snap Mor merupakan puncak rangkaian adat Munara yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pelaksanaannya berada di bawah otoritas lembaga adat yang terdiri dari Mananwir Beba sebagai kepala adat tertinggi, Mananwir Keret sebagai kepala klan, dan Kainkain Kankarem sebagai para tetua kampung.

Tradisi ini juga berpedoman pada hukum adat Sasien atau Krar (Sasi Laut), yakni aturan penutupan kawasan laut dalam kurun waktu tertentu agar ekosistem memiliki kesempatan untuk pulih sebelum kembali dimanfaatkan masyarakat.

Sebelum masyarakat turun ke laut, para tetua adat lebih dahulu menggelar ritual Pele Jaring, yakni prosesi spiritual menggunakan pembakaran daun kelapa sebagai simbol permohonan keselamatan sekaligus ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.

Seorang Mananwir senior yang memimpin upacara adat menegaskan filosofi tersebut.

“Sno komes i, snar msnis mansar nggor kom rari pampam. Karu isnes, msnis isnes, kom mboi mor kaker isfna monda.”

Artinya, kita menjaga laut ini, karena laut dan karang telah memberi kita kehidupan sejak zaman nenek moyang. Jika kita merawatnya, maka rezeki dan kelimpahan ikan dari samudera akan selalu ada untuk anak cucu kita.

Pelaksanaan Snap Mor hanya dilakukan saat musim Meti, yaitu periode air laut surut terendah akibat siklus bulan yang biasanya berlangsung antara Maret hingga Agustus. Pembatasan waktu tersebut menjadi bagian dari sistem konservasi alami yang memberi kesempatan bagi terumbu karang dan biota laut untuk beregenerasi.

Kehadiran wisatawan mancanegara dalam pelaksanaan Snap Mor tahun ini menjadi bukti meningkatnya perhatian dunia terhadap budaya konservasi yang dimiliki masyarakat Biak. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor pun terus mendorong tradisi tersebut sebagai destinasi wisata budaya yang berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.

Di tengah meningkatnya ancaman eksploitasi laut dan perubahan iklim global, praktik adat seperti Snap Mor dinilai menjadi contoh nyata bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan tradisi dan pariwisata.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat Kampung Mnurwar, masyarakat perlahan meninggalkan pesisir, sementara air laut kembali pasang. Tradisi itu pun kembali meninggalkan pesan bahwa laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan warisan yang harus dijaga bersama agar tetap memberi kehidupan bagi generasi yang akan datang.***