Banner Website
Ragam

Transformasi Nyata Pemasyarakatan: Lapas Bengkalis Panen 180 Kg Patin Berkualitas

181
×

Transformasi Nyata Pemasyarakatan: Lapas Bengkalis Panen 180 Kg Patin Berkualitas

Sebarkan artikel ini
Petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bergotong-royong saat panen raya ikan patin di kolam asimilasi, Sabtu (28/02/2026)./R45/Humas.

Rakyat45.com, Bengkalis – Riak air di kolam asimilasi menjadi saksi perubahan yang perlahan namun pasti, dari ruang pembinaan yang kerap dipandang sebelah mata, lahir produktivitas yang terukur dan berdampak nyata. Sabtu pagi (28/02/2026),

Panen raya siklus kedua di area asimilasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis menghasilkan 180 kilogram ikan patin segar—sebuah capaian yang menegaskan transformasi pemasyarakatan berbasis kemandirian

Panen tersebut tidak sekadar memenuhi target produksi. Ia merepresentasikan disiplin, manajemen budidaya yang presisi, serta kemitraan kerja antara petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Sejak pagi, pejabat struktural dan staf operasional turun langsung ke kolam, bergotong-royong bersama para warga binaan yang selama berbulan-bulan merawat ikan dengan penuh tanggung jawab.

Kualitas ikan yang dipanen menunjukkan standar yang konsisten dengan bobot rata-rata seragam indikasi keberhasilan sistem pemeliharaan yang terencana. Pola pemberian pakan terjadwal, pengawasan kualitas air yang ketat, hingga kontrol teknis yang disiplin menjadi fondasi utama keberhasilan siklus kedua ini.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkalis, Priyo Tri Laksono, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang institusi dalam membangun kemandirian warga binaan.

“Panen 180 kilogram ini bukan hanya angka produksi. Ini adalah proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Kami ingin setiap WBP memiliki keterampilan nyata ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Hasil panen akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani warga binaan melalui dapur umum, sebagian disalurkan kepada vendor Bahan Makanan (Bama), serta didistribusikan kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk kontribusi sosial. Skema ini menempatkan program budidaya tidak hanya sebagai sarana rehabilitasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ketahanan pangan lokal.

“Keberhasilan siklus kedua mempertegas perubahan paradigma pemasyarakatan dari sekadar ruang menjalani masa hukuman menjadi pusat pembinaan produktif yang berorientasi pada keberlanjutan. Kolam-kolam asimilasi di Bengkalis kini berdiri sebagai simbol bahwa rehabilitasi sosial dapat berjalan seiring dengan kontribusi ekonomi yang konkret.” ungkap Kalapas Priyo.

Dengan komitmen memperluas lahan produktif dan meningkatkan kapasitas budidaya, langkah berikutnya bukan lagi sekadar target administratif. Ia menjadi keniscayaan dari proses pembinaan yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan mewujudkan pemasyarakatan yang bukan hanya mendidik, tetapi juga menghasilkan.**