Banner Website
Daerah

Menara Api Colok Sebauk: Cahaya Tradisi Tujuh Likur di Langit Ramadan Bengkalis

71
×

Menara Api Colok Sebauk: Cahaya Tradisi Tujuh Likur di Langit Ramadan Bengkalis

Sebarkan artikel ini
Menara api colok berbentuk siluet masjid menyala terang di Desa Sebauk, Kecamatan Bengkalis. Ribuan titik api yang dipasang para pemuda desa melalui gotong royong memeriahkan tradisi Tujuh Likur, warisan budaya masyarakat Melayu di Pulau Bengkalis dalam menyambut malam ke-27 Ramadan, Senin (16/3/2026)./R45/Indra

Rakyat45.com, Bengkalis – Malam ke-27 Ramadan di Pulau Bengkalis selalu datang bersama cahaya. Ketika langit mulai gelap dan angin laut berembus perlahan, ribuan api colok menyala satu per satu di sepanjang desa pesisir, menghadirkan suasana khas tradisi Tujuh Likur yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Melayu.

Cahaya tradisi itu tampak dari Desa Pangkalan Batang, Pangkalan Batang Barat hingga Desa Sebauk. Nyala api yang berjajar di sepanjang kawasan permukiman menciptakan panorama malam yang hangat dan menjadi pemandangan yang selalu dinantikan setiap Ramadan.

Di Desa Sebauk, cahaya api colok bahkan dibentuk menjadi sebuah menara yang menjulang tinggi. Susunan rangka yang dihiasi ribuan sumbu api itu membentuk siluet menyerupai menara masjid, memancarkan cahaya terang di tengah desa dan menarik perhatian warga maupun pengunjung yang datang untuk menyaksikan keindahannya.

Menara api colok tersebut dibangun oleh para pemuda Desa Sebauk melalui semangat gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Mereka bersama-sama merancang rangka menara, memasang ratusan hingga ribuan sumbu api, lalu menyalakannya saat malam tiba.

Kemegahan menara api colok itu pun mengundang perhatian masyarakat dari berbagai penjuru. Sepanjang jalan menuju lokasi menara dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan langsung cahaya api colok yang menerangi malam Ramadan.

Bagi masyarakat Melayu di Pulau Bengkalis, tradisi api colok bukan sekadar menghadirkan keindahan cahaya. Tradisi ini menjadi simbol kegembiraan sekaligus penghormatan terhadap malam-malam terakhir bulan suci Ramadan.

Semarak api colok yang terlihat dari Pangkalan Batang, Pangkalan Batang Barat hingga Desa Sebauk juga menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih terus dijaga oleh masyarakat.

Setiap desa menghadirkan cahaya api colok dengan cara masing-masing, namun semuanya berpadu dalam suasana kebersamaan yang khas pada malam Tujuh Likur.

TM Alfindra, pemuda tempatan yang juga pengurus Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Bengkalis, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pemuda Desa Sebauk dalam menjaga tradisi tersebut.

“Tradisi Tujuh Likur merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu di Bengkalis. Kami sangat mengapresiasi semangat para pemuda Desa Sebauk yang terus menjaga dan merawat tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, api colok tidak hanya memperindah suasana Ramadan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.

Ia berharap kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan dari berbagai pihak karena selain mempererat silaturahmi, tradisi menara api colok juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Melayu.

“Dengan cahaya api colok yang menyala dari Pangkalan Batang, Pangkalan Batang Barat hingga Desa Sebauk, masyarakat Bengkalis menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia tetap hidup, menyala, dan menjadi cahaya kebersamaan yang menerangi malam-malam akhir Ramadan di Pulau Bengkalis,” ungkap Alfindra.**