Banner Website
Peristiwa

Gajah Sumatra Berusia 60 Tahun di Pelalawan Pulih, BBKSDA Riau Ungkap Kondisi Terkini

20
×

Gajah Sumatra Berusia 60 Tahun di Pelalawan Pulih, BBKSDA Riau Ungkap Kondisi Terkini

Sebarkan artikel ini
Gajah Sumatra Berusia 60 Tahun di Pelalawan Pulih
Gajah Sumatra betina berusia sekitar 60 tahun yang hidup di kawasan hutan tanaman industri Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan. (R45/M)

Rakyat45.com Pekanbaru – Gajah Sumatra betina berusia sekitar 60 tahun yang hidup di kawasan hutan tanaman industri Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, menunjukkan perkembangan kesehatan yang menggembirakan. Setelah sempat berada dalam kondisi kritis pada pertengahan 2025, satwa dilindungi tersebut kini kembali aktif meski tetap menghadapi penurunan fungsi organ akibat faktor usia.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kembali melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap gajah liar tersebut sebagai bagian dari pemantauan berkala.

Saat tim medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh. Rini Deswita melakukan pemeriksaan, gajah betina itu terlihat agresif dan defensif. Bahkan, proses pembiusan ringan berlangsung cukup sulit karena satwa tersebut tetap berdiri dan menunjukkan kondisi fisik yang masih kuat.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi tubuh gajah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu.

“Skor kondisi tubuhnya kini masuk dalam kategori sedang yang proporsional, serta bersih tanpa adanya luka fisik atau cedera baru,” ujar Supartono, kepada Rakyat45.com, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, berat badan gajah diperkirakan mencapai 2.600 kilogram dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi badan sekitar 230 sentimeter. Kondisi tersebut jauh lebih baik dibanding saat ditemukan mengalami dehidrasi berat, gangguan pencernaan akut, hingga prolapsus ani pada Juli 2025.

Meski demikian, tim medis menemukan penurunan fungsi biologis yang lazim terjadi pada satwa berusia lanjut. Gajah mengalami anismus atau melemahnya fungsi otot anus sehingga kotoran sering menggantung dan menimbulkan aroma tidak sedap.

Selain itu, gigi yang telah aus membuat proses mengunyah pakan berserat tinggi tidak lagi optimal. Akibatnya, gajah lebih sering mencari makanan bertekstur lunak seperti ubi kayu, batang pisang, rumput segar, hingga tanaman sawit muda di sekitar kebun masyarakat.

“Guna menyokong sisa energinya di usia tua, tim medis langsung memberikan terapi suportif berupa obat-obatan penguat dan cairan infus untuk menjaga kestabilan fisiologisnya,” jelasnya.

Supartono menegaskan, penurunan fungsi organ merupakan proses alami pada satwa berusia tua. Selama nafsu makan tetap baik, kondisi tubuh stabil, dan tidak mengalami stres, gajah tersebut diperkirakan masih dapat bertahan hidup secara alami di habitatnya.

Ia juga menilai pemantauan rutin yang dilakukan menjadi bentuk komitmen bersama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar beserta habitatnya. BBKSDA Riau turut mengajak masyarakat untuk tidak melakukan perburuan liar serta segera melaporkan apabila menemukan satwa yang membutuhkan penanganan darurat.***