Banner Website
Daerah

Ruang Diskusi Tanpa Batas Waktu, Burjo Tugas Akhir Hidupkan Denyut Mahasiswa Gejayan

25
×

Ruang Diskusi Tanpa Batas Waktu, Burjo Tugas Akhir Hidupkan Denyut Mahasiswa Gejayan

Sebarkan artikel ini
Suasana hangat diskusi mahasiswa di Burjo Tugas Akhir, kawasan Gejayan, Sleman, saat sejumlah mahasiswa berbincang dan mengerjakan tugas dalam konsep warung 24 jam yang menjadi ruang singgah sekaligus ruang pikir. Kamis malam (30/4/2026)./R45/Ags.w

Rakyat45.com, Sleman – Denyut kehidupan mahasiswa di kawasan Gejayan kini menemukan ritme barunya. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan tekanan penyelesaian tugas akhir, sebuah ruang sederhana namun hangat hadir sebagai tempat singgah yang tak sekadar mengenyangkan, tetapi juga menenangkan pikiran.

Burjo Tugas Akhir, yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam, menjelma menjadi titik temu bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berbagi cerita, hingga melepas penat.

Berada di Jalan Moses Gatotkaca, Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman, tempat ini mulai melayani pelanggan sejak 25 April 2026. Kehadirannya langsung menyasar kebutuhan utama mahasiswa di kawasan yang dikenal sebagai episentrum kehidupan kampus di Yogyakarta, ruang makan yang terjangkau sekaligus nyaman untuk berinteraksi.

Pemilik Burjo Tugas Akhir, Maulana, mengungkapkan bahwa gagasan ini berangkat dari realitas keseharian mahasiswa yang kerap bergulat dengan keterbatasan waktu dan tekanan akademik.

“Kawasan ini dikelilingi banyak perguruan tinggi dan hunian mahasiswa. Kebutuhan makan dan minum menjadi hal mendasar, namun kami ingin menghadirkan lebih dari itu,” ujarnya saat ditemui Rakyat45.com, Kamis malam (30/4/2026).

Lebih jauh, ia menekankan bahwa tempat ini dirancang sebagai ruang sosial yang memberi nilai tambah. Bukan sekadar warung makan, Burjo Tugas Akhir membuka ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi tentang tugas, bertukar gagasan, hingga mencurahkan kegelisahan yang kerap menyertai proses akademik.

“Tekanan antara jadwal kuliah yang padat dan tenggat tugas akhir sering kali membuat mahasiswa jenuh. Kami ingin menghadirkan suasana santai agar mereka bisa kembali segar,” kata Maulana.

Konsep tersebut, lanjutnya, lahir dari pengalaman pribadinya saat masih menjadi mahasiswa. Pengalaman itu kemudian dipadukan dengan pengelolaan usaha yang matang, termasuk keterlibatannya dalam bisnis oleh-oleh khas Yogyakarta melalui merek Piastory.

Secara fisik, Burjo Tugas Akhir mengusung kesederhanaan yang fungsional. Menu yang ditawarkan disesuaikan dengan selera mahasiswa, dengan harga yang ramah di kantong.

Kebersihan ruang dijaga, sementara area duduk dirancang fleksibel bahkan memungkinkan pengunjung untuk sekadar beristirahat sejenak di tengah teriknya siang. Lokasinya yang strategis membuat akses dari berbagai kampus di sekitar Gejayan menjadi mudah dan cepat.

Operasional yang berlangsung sepanjang hari menjadi salah satu daya tarik utama. Mahasiswa dapat datang kapan saja, baik untuk sarapan sebelum kuliah, berdiskusi hingga larut malam, maupun mencari ketenangan saat dini hari. Seluruh menu disiapkan oleh juru masak berpengalaman untuk menjaga konsistensi rasa.

“Bubur kacang hijau di sini benar-benar cocok untuk semua kalangan. Rasanya khas dan menghangatkan,” ujar Novel, staf akuntansi yang turut mendampingi perbincangan. Ia juga menambahkan bahwa layanan pesan antar tersedia melalui aplikasi, memudahkan mahasiswa yang tidak sempat datang langsung.

Ke depan, Maulana menatap ekspansi dengan optimisme. Ia merencanakan pengembangan Burjo Tugas Akhir ke berbagai kota di Indonesia, terutama wilayah dengan konsentrasi perguruan tinggi. Skema waralaba disiapkan sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan.

“Pasarnya jelas, dan kebutuhan makan tidak pernah berhenti. Konsep ini kami rancang agar bisa tumbuh bersama kehidupan mahasiswa di berbagai kota,” tuturnya.

Dengan perpaduan fungsi sebagai ruang makan dan ruang interaksi, Burjo Tugas Akhir bukan sekadar tempat singgah. Ia hadir sebagai bagian dari ekosistem kehidupan mahasiswa, ruang kecil yang menampung ide besar, percakapan panjang, dan harapan yang terus menyala, bahkan ketika malam tak lagi berbatas.**

Pewarta: Ags W