Banner Website
Ekbis

33 Provinsi Alami Kenaikan Indeks Perkembangan Harga pada Pekan Kedua Juni 2026

19
×

33 Provinsi Alami Kenaikan Indeks Perkembangan Harga pada Pekan Kedua Juni 2026

Sebarkan artikel ini
BPS 33 Provinsi Alami Kenaikan IPH Juni 2026
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama pemerintah daerah se-Indonesia yang digelar secara virtual dan disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (15/6/2026). R45/Rls/Mcr

Rakyat45.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 33 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan kedua Juni 2026. Sementara itu, empat provinsi mengalami penurunan dan satu provinsi tercatat stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama pemerintah daerah se-Indonesia yang digelar secara virtual dan disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (15/6/2026).

Amalia menjelaskan, kenaikan IPH di sebagian besar wilayah didorong oleh naiknya harga sejumlah komoditas pangan, terutama bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit.

“Perubahan IPH menurut provinsi pada minggu kedua Juni terjadi di Sulawesi Utara sebesar 7,69 persen, penyumbang andil kenaikan IPH diantaranya cabai rawit, cabai merah dan bawang merah,” ujarnya.

Secara nasional, jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IPH pada pekan kedua Juni lebih banyak dibandingkan daerah yang mengalami penurunan harga.

“Kalau kita lihat kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH tertinggi terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Tomohon, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dan lainnya,” katanya.

Dari pantauan Rakyat45.com melalui siaran rapat koordinasi tersebut, kenaikan IPH tertinggi di Pulau Sumatera terjadi di Kabupaten Sarolangun dengan perubahan IPH mencapai 3,71 persen. Kenaikan harga di wilayah tersebut didominasi oleh cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.

Sementara di Pulau Jawa, Kabupaten Lamongan mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 2,44 persen. Adapun komoditas utama penyumbang kenaikan harga di sejumlah daerah Pulau Jawa antara lain cabai merah, daging sapi, cabai rawit, dan bawang merah.

“Komoditas menyumbang adalah kenaikan IPH terbesar di 10 wilayah di pulau Jawa didominasi oleh cabai merah, daging sapi, cabai rawit dan bawang merah,” jelas Amalia.

Lebih lanjut, BPS mencatat kenaikan IPH tertinggi di luar Pulau Jawa dan Sumatera terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow dengan nilai perubahan mencapai 11,35 persen.

Komoditas yang paling banyak memberikan andil terhadap kenaikan harga di wilayah tersebut masih didominasi cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.

Kepada peserta rapat koordinasi, Amalia juga mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai komoditas yang meskipun memiliki perubahan IPH relatif rendah, namun harga jualnya tetap tinggi di tingkat konsumen.

“Ada komoditas-komoditas yang memang perubahan IPH relatif rendah, tetapi level harganya tinggi. Jadi harga inilah yang kemudian dirasakan oleh masyarakat terlalu mahal. Jadi ini perlu waspada,” tutupnya.

BPS berharap pemerintah daerah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi, terutama terhadap komoditas pangan strategis yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia.***